TM1 IPM: Sedang Menggelar Acara, atau Menempa Kader?

Setiap kali agenda Pimpinan Ranting IPM mulai terisi, ada satu kegiatan yang hampir pasti muncul: Taruna Melati 1. Panitia dibentuk, proposal disusun, rundown dicetak, poster disebar ke story. Semua tampak sibuk dan hidup. Tetapi sebelum semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: TM1 ini sebenarnya untuk apa? Kalau jawabannya "karena sudah agenda tahunan", kita sedang menghadapi masalah yang tidak kelihatan dari luar. Acaranya bisa saja ramai, dokumentasinya bagus, sertifikatnya rapi. Tetapi perkaderannya bisa jadi kosong.
Dalam sistem perkaderan IPM, TM1 adalah jenjang pertama, tempat seorang pelajar berkenalan secara sadar dengan ikatannya: apa itu IPM, mengapa ia ada, apa yang diperjuangkan, dan di mana posisi dirinya di dalamnya. Kata kuncinya berkenalan, bukan lulus. TM1 bukan wisuda. Ia pintu. Dan pintu hanya bermakna kalau ada ruangan di baliknya. Terlalu sering kita sibuk mempercantik pintu, tetapi lupa menyiapkan ruang untuk mereka yang masuk.
Kita mengenal kisah KH Ahmad Dahlan yang mengajarkan Surat Al-Ma'un berulang-ulang kepada murid-muridnya. Ketika mereka bosan dan bertanya kapan pindah ke surat lain, beliau balas bertanya: sudahkah ayat itu diamalkan? Sudahkah ada anak yatim yang kalian urus? Itulah ruh perkaderan Muhammadiyah, dan seharusnya juga ruh perkaderan IPM. Materi yang sudah disampaikan belum tentu sudah dipelajari. Yang sudah dipahami belum tentu sudah dilakukan. Ilmu baru selesai dipelajari ketika ia berubah menjadi laku. Karena itu, tolok ukur TM1 tidak berhenti pada "materi tersampaikan", "jadwal terlaksana", atau "peserta hadir". Ukurannya: apa yang berubah dalam diri peserta setelah ia pulang?
Ada dua hal yang terdengar sama, padahal jauh berbeda: mengadakan TM1, dan mengader lewat TM1. Mengadakan TM1 berarti memastikan kegiatan terlaksana, ada panitia, tempat, materi, fasilitator, konsumsi, dan dokumentasi, lalu selesai begitu saja. Mengader lewat TM1 berarti memikirkan manusianya, siapa yang sedang kita kader, apa yang ingin kita tumbuhkan dalam dirinya, bagaimana ia belajar, dan ke mana ia berjalan setelah acara ditutup. Yang pertama bisa dikerjakan dengan manajemen acara. Yang kedua menuntut kesabaran, keteladanan, dan kesediaan mendampingi. Kader tidak lahir dari duduk beberapa hari di dalam forum. Kader lahir dari pengalaman, contoh yang ia lihat, kepercayaan yang ia terima, tanggung jawab yang ia pikul, dan kesalahan yang ia perbaiki bersama orang-orang yang tidak meninggalkannya.
Ketika peserta melangkah keluar dari ruang TM1, di situlah ujian sesungguhnya bagi Pimpinan Ranting dimulai. Apakah ia dilibatkan dalam kegiatan ranting, atau hanya dicatat namanya? Adakah ruang baginya menyampaikan gagasan? Sudahkah ia diberi tugas kecil yang nyata, seperti jadi panitia, penanggung jawab seksi, atau juru bicara kegiatan? Adakah kakak kader yang mendampingi saat ia mulai belajar memimpin? Adakah forum rutin, seperti kajian, diskusi, atau madrasah kader, tempat ia terus bertumbuh? Adakah kerja sosial dan dakwah yang membuatnya merasakan bahwa ber-IPM itu bergerak, bukan hanya berseragam? Kalau jawabannya kosong, jangan heran bila enam bulan kemudian kader TM1 tinggal nama di daftar hadir. Kita mengajaknya masuk lewat pintu, lalu membiarkannya berdiri kebingungan di lorong. Pimpinan Ranting adalah ruang paling dekat dengan kader. Di sanalah pelajar belajar dari rapat yang panjang, proker yang gagal, konflik kecil, evaluasi yang jujur, dan kerja bersama yang melelahkan tetapi membentuk. TM1 yang terputus dari kehidupan ranting hanya akan menjadi seminar yang lebih panjang dari biasanya.


