Di Tengah Ramainya Pesta Babi: Antara Ekspresi dan Kekhawatiran

Bayangkan kamu duduk di halaman belakang kampus. Layar proyektor sudah terpasang. Orang-orang mulai datang. Film diputar. Tiga menit berlalu lalu seseorang masuk dan mematikan segalanya.Itulah yang terjadi di UIN Mataram, pada malam 7 Mei 2026, ketika puluhan mahasiswa yang berkumpul untuk menonton film dokumenter Pesta Babi harus membubarkan diri setelah film hanya sempat berjalan sekitar tiga menit. Sehari setelahnya, hal serupa terjadi di Ternate. Sebelumnya, di Yogyakarta. Sebelum itu lagi, di Universitas Pendidikan Mataram.
Pertanyaannya: ada apa sebenarnya dengan film ini?
Babi Bukan Sekadar Hewan
Sebelum membicarakan kontroversinya, kita perlu memahami dulu apa yang sedang dibicarakan. Karena banyak orang bereaksi terhadap judulnya jauh sebelum tahu isinya. Dalam budaya masyarakat adat Papua, pesta babi bukan sekadar acara makan bersama. Ia memiliki dimensi sosial, ekonomi, hingga spiritual yang mendalam. Tradisi ini digelar pada momen krusial seperti pernikahan, perdamaian, dan penyelesaian konflik. Bagi komunitas setempat, babi adalah simbol status sosial, kehormatan, dan solidaritas antarkeluarga maupun antarkomunitas. Suku Muyu di Boven Digoel, misalnya, mengenal dua bentuk utama tradisi ini: awonbon, perayaan skala kecil yang diadakan keluarga inti, dan atatbon, pesta besar yang melibatkan satu marga untuk mengundang kelompok dari luar. Proses penyelenggaraannya membutuhkan waktu bertahun-tahun karena hewan harus dipelihara sendiri oleh keluarga atau marga di dalam hutan. Ketika hutan adat itu hilang ketika tanah tempat babi dibesarkan dan dilepas liarkan itu berganti menjadi lahan industri yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah seluruh fondasi dari cara hidup mereka. Itulah yang ingin dikatakan judul film ini: bukan sensasi, melainkan kehilangan.
Film yang Dibuat Selama Empat Tahun
Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan proyek dadakan. Film dokumenter berdurasi sekitar 95 menit ini menggabungkan penelitian sejarah, antropologi, investigasi jurnalistik, dan analisis kebijakan. Proses pembuatannya memakan waktu hingga empat tahun, dengan pengambilan gambar di lima distrik di Papua Selatan seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Film ini mengangkat isu perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, terutama suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi proyek strategis nasional seperti perkebunan sawit, tebu untuk bioetanol, dan kawasan industri pangan skala besar. Angka-angkanya tidak main-main. Film ini mendokumentasikan pembukaan lahan yang disebut mencapai sekitar 2,5 juta hektare hutan adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi dikaitkan dengan proyek perkebunan sawit, tebu bioetanol, hingga program food estate yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Film ini diproduksi oleh kolaborasi WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke dan ini bukan film amatiran, melainkan karya yang melibatkan banyak lembaga dengan rekam jejak panjang dalam isu lingkungan dan hak asasi manusia.


