Senandung Kelam di Balik Seragam Putih: Ketika Birokrasi Pendidikan Menjadi Sumber Penderitaan Anak

Saya menulis ini dengan duka yang membeku di tulang. Bukan duka yang menangis keras, tetapi duka yang mengendap seperti lumpur hitam di dasar jiwa jenis duka yang muncul ketika kita menyadari bahwa negara ini telah membiarkan seorang anak berusia 10 tahun memilih mati karena tidak sanggup membayar harga hidup yang bahkan kurang dari sepuluh ribu rupiah. Kamis, 29 Januari 2026, pukul 12.30 WITA. Di sebuah kebun cengkih di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kornelis Dopo seorang warga yang hendak mengikat ternaknya menemukan tubuh kecil YBR tergantung di pohon cengkih setinggi 15 meter. Tali melilit di ketinggian lima meter. Tubuh anak kelas IV SD itu sudah dingin. Napasnya sudah pergi. Hanya tiga meter dari pondok bambu berukuran 2x3 meter tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia 85 tahun Di tangan jasad kecil itu, polisi menemukan secarik kertas sobek dari buku tulis. Sebuah surat perpisahan. Ditulis dengan tulisan tangan anak yang masih ragu-ragu, dalam bahasa Ngada bahasa ibu yang menjadi pelindung terakhir sebelum ia melepaskan diri dari dunia yang terlalu kejam untuk tubuhnya yang rapuh.
\"Kertas Tii Mama Reti\" (Surat untuk mama Reti).
\"Mama Galo Zee\" (Mama pelit sekali).
\"Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama\" (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis).
\"Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee\"(Mama kalau saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee).
\"Molo Mama\" (Selamat tinggal mama).
Di ujung surat itu, ada gambar seorang anak sedang menangis.
Sepuluh Ribu Rupiah: Harga Hidup Seorang Anak
YBR meminta uang kurang dari Rp10.000 untuk membeli buku tulis dan pulpen. Ibunya, Maria Goreti Te'a (47), menjawab mereka tidak punya uang.Bukan karena sang ibu pelit. Bukan karena ia tidak mencintai anaknya. Tetapi karena untuk keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem seperti mereka, sepuluh ribu rupiah adalah jurang yang tak terjangkau. Maria Goreti Te'a adalah seorang janda yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Ia harus menghidupi lima anak sendirian sejak berpisah dari suami sepuluh tahun lalu.YBR, anak bungsunya, sejak usia satu tahun tujuh bulan sudah tidak tinggal bersamanya lagi dititipkan kepada sang nenek yang kini berusia 80-85 tahun di sebuah pondok bambu di kebun Pondok itu bukan rumah. Bangunan seluruhnya terbuat dari bambu, termasuk atapnya. Di dalam ruang sempit berukuran sekitar 2x3 meter itu, terdapat tungku api untuk memasak yang berdampingan langsung dengan tempat tidur Di sana, nenek dan cucu tinggal berdesakan. Di sana mereka tidur, memasak, dan bernapas dalam asap yang mengepul dari tungku. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, yang mendatangi pondok itu mengatakan kondisinya sangat memprihatinkan tidak layak untuk ditinggali


