Lewati ke konten

Siasat Semesta

Foto profil mey salfiramey salfiraKontributor IPM
Siasat Semesta

Mey menatap layar ponselnya yang redup, lalu meletakkannya di atas bantal. Kamar sudah gelap, tapi kepalanya justru riuh. Di luar, suara jangkrik sesekali memecah sunyi, namun di dalam pikiran Mey, pertanyaan-pertanyaan besar sedang mengantre untuk dijawab.

Ia teringat betapa sering ia terjebak dalam pola yang sama. Ketika Mey menginginkan sesuatu—entah itu sebuah pencapaian, sebuah pengakuan, atau sekadar kedekatan dengan seseorang—ia akan mengerahkan seluruh energinya. Ia merencanakan, berusaha, dan menaruh harapan yang begitu besar hingga dadanya terasa sesak. Namun, seperti sebuah pola yang jahat, semakin ia mengejar, semakin hal itu terasa menjauh. Hasilnya seringkali berbelok ke arah yang sama sekali tidak ia duga.

\"Apa aku nggak usah berusaha aja ya?\" gumam Mey pada kegelapan.

Pikiran itu sempat melintas karena ia ingat kejadian minggu lalu. Saat itu, ia sedang tidak memikirkan apa pun. Ia sedang santai, membiarkan hari mengalir tanpa target, tanpa ekspektasi, dan tanpa beban harapan yang biasanya ia pikul. Anehnya, justru di saat itulah pintu-pintu keberuntungan terbuka sendiri. Hal-hal menyenangkan datang tanpa ia ketuk, seolah-olah semesta sedang memberinya hadiah karena ia akhirnya mau beristirahat.

Mey teringat pepatah yang sering ia dengar Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tapi baginya, pepatah itu punya sisi lain yang jarang dibahas. Mungkin, usaha yang terlalu keras justru menciptakan tembok tekanan yang menghalangi hal baik untuk masuk.

Ia mulai membayangkan sebuah metafora dalam kepalanya. Mengejar keinginan itu seperti menggenggam seekor burung kecil. Kalau Mey menggenggamnya terlalu kuat karena takut lepas, burung itu justru akan lemas dan mati. Tapi jika Mey membuka telapak tangannya dengan lebar dan tenang, burung itu mungkin akan tetap di sana, merasa nyaman untuk hinggap.

Mey menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara malam yang dingin. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk \"memaksa\" keadaan. Ia terlalu keras pada dirinya sendiri.

Malam itu, Mey sampai pada sebuah kesimpulan baru. Ia tidak akan berhenti berusaha, karena ia memang tipe orang yang senang berjuang. Namun, ia akan mengubah caranya. Ia akan tetap menanam benih, tapi ia tidak akan lagi menunggu di depan pot setiap detik sambil berteriak menyuruhnya tumbuh.

Ia akan belajar untuk membiarkan tangannya tetap terbuka. Sebab ternyata, kebahagiaan seringkali adalah tamu yang tidak suka diburu; ia lebih suka datang saat pemilik rumah sedang duduk tenang sambil tersenyum menyambut apa pun yang hadir di depan pintu.

Mey memejamkan mata. Kali ini, tidurnya terasa lebih ringan, tanpa beban harapan yang mengh

impit dada.

Tulis postingan
Siasat Semesta — IPM Lampung Utara