Kepada Kamu, Alamat yang Belum Kutemukan

Pukul tujuh pagi, tirai panggung kehidupanku resmi dibuka. Di depan cermin kamar mandi, aku menatap sosok yang terpantul di sana. Matanya lelah, namun tanganku dengan cekatan memulas \"cat\" keramahan di wajah. Aku berlatih melengkungkan bibir hingga terbentuk senyum yang paling pas—tidak terlalu lebar agar tidak tampak palsu, namun cukup hangat untuk membuat siapa pun yang menatapnya merasa nyaman. Inilah ritual harian seorang introvert yang terjebak dalam ekspektasi dunia, menjadi pribadi yang ceria, ramah, dan murah senyum.
Aku melangkah keluar rumah dengan ransel yang berat, bukan hanya oleh buku-buku, tapi oleh beban identitas yang aku buat sendiri. Di sekolah, di organisasi, di tempat nongkrong, aku adalah orang yang pertama kali akan menyapa dengan riang. \"Halo! Apa kabar?\" atau \"Sini, ceritakan masalahmu padaku.\" Kalimat-kalimat itu meluncur seperti mesin yang sudah diminyaki dengan baik. Aku menjadi magnet bagi curhatan orang lain. Aku adalah pendengar yang paling setia, yang akan mengangguk dengan empati, yang akan memberikan pelukan paling hangat saat teman-temanku menangis.
Namun, pernahkah mereka bertanya \"siapa yang memeluk si pemeluk?\"
Secara lahiriah, aku terlihat sempurna. Aku melakukan semua orang dengan sangat baik. Aku memanjakan sahabat-sahabatku dengan kasih sayang yang tumpah-ruah. Aku mengerti kapan mereka sedang sedih meski mereka belum bicara, aku tahu makanan kesukaan mereka saat mereka lapar, dan aku selalu menyediakan bahuku kapan pun mereka butuh bersandar. Aku melakukan itu semua bukan karena aku ingin dipuji, tapi karena memang begitulah caraku mencintai. Aku hanya ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain.
Tapi di balik itu semua, ada sisi sebaliknya yang aku kunci rapat di dalam gudang hati yang gelap. Sisi itu adalah aku yang sebenarnya,seorang introvert yang gampang lelah oleh suara bising, yang sering kali ingin duduk diam tanpa harus mengeluarkan sepatah kata pun, dan yang sebenarnya sangat rapuh. Orang-orang mengenalku sebagai \"si kuat yang ceria,\" padahal di dalam sini, aku hanyalah seorang gadis yang butuh disayang.
Aku butuh disayang bukan karena aku kekurangan kasih sayang dari orang tua. Ayah dan ibuku adalah orang-orang hebat yang mencintaiku dengan cara terbaik mereka. Namun, ada satu jenis kasih sayang yang sangat aku rindukan—kasih sayang yang datang dari sebuah \"feedback\" sosial. Aku ingin merasakan apa yang aku berikan ke orang lain juga aku dapatkan kembali. Aku ingin, sekali saja, tidak perlu menjadi pihak yang selalu mengerti. Aku ingin, sekali saja, menjadi pihak yang dimengerti tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Ada sebuah keletihan yang luar biasa ketika kamu harus terus-menerus membaca perasaan orang lain, menjaga agar tidak ada hati yang tersinggung karena ucapanmu, sementara hatimu sendiri sedang babak belur tertabrak kenyataan. Aku sering berpikir, apakah orang-orang hanya mencintai \"topeng\" ini? Jika suatu hari nanti aku berhenti tersenyum, jika suatu hari nanti aku hanya ingin diam dengan wajah datar karena aku sedang lelah, apakah mereka masih akan tetap berada di sampingku? Ataukah mereka akan pergi karena \"hiburan\" yang biasa kuberikan telah hilang?


