Sore itu Kota Jogja perlahan berubah warna. Semburat jingga kemerahan memenuhi cakrawala. Angin sore berembus pelan, membawa udara yang terasa sejuk setelah seharian matahari menyinari jalanan.
Di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai, duduklah dua insan yang sedang menikmati waktu berdua Ciara dan Ian. Mereka adalah sepasang kekasih yang selama ini selalu berusaha saling melengkapi.di antara percakapan kecil para pengunjung, terdengar tawa mereka yang sesekali pecah.
Ian yang sejak tadi begitu ceria bahkan sempat membuat Ciara tertawa karena tingkahnya yang konyol.
Namun, tanpa Ciara sadari, tawa itu perlahan menghilang.
Ian tiba-tiba terdiam.
Tatapannya yang semula penuh keceriaan kini beralih menatap keluar jendela. Matanya mengikuti langit yang perlahan berubah warna, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Ada sesuatu yang kembali memenuhi kepalanya.
Tentang dirinya.
Tentang tubuhnya.
Tentang satu kakinya yang tidak lagi ia miliki.
Ian menunduk. Tangannya yang sejak tadi berada di atas meja perlahan mengepal. Ia berusaha mengusir pikiran itu, tetapi semakin ia mencoba, semakin kuat rasa tidak percaya dirinya muncul.
Apa aku benar-benar pantas bersama Ciara?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Ia mencintai Ciara. Sangat mencintainya.
Justru karena itulah ia takut.
Takut suatu hari Ciara merasa lelah. Takut Ciara merasa malu berjalan bersamanya. Takut suatu saat Ciara menyadari bahwa ia bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih sempurna daripada dirinya.
Ian tahu Ciara tidak pernah mempermasalahkan keadaan fisiknya. Ciara selalu memperlakukannya sama seperti orang lain. Namun, terkadang luka terbesar bukan berasal dari perkataan orang lain, melainkan dari pikirannya sendiri.
Dan sore itu, perasaan tersebut kembali menghampirinya.
Ciara yang sedari tadi memperhatikan perubahan kekasihnya akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa menit lalu Ian masih tertawa lepas, tetapi sekarang wajahnya tampak murung. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya menghilang begitu saja.
Ciara menatapnya dengan khawatir.
Ia tidak langsung bertanya. Ia hanya memperhatikan Ian beberapa saat, seakan memberikan ruang agar kekasihnya itu mau membuka pikirannya sendiri.
Namun ketika Ian tetap diam, Ciara perlahan mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan Ian.
Sentuhan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Ian tersadar dari lamunannya.
Dengan suara lembut, Ciara berkata,
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa wajahmu terlihat sedih? Apa ada yang sedang kamu pikirkan? Coba cerita, sayang. Jangan dipendam sendiri."
Ian terdiam.
Ia menatap tangan Ciara yang sedang menggenggam tangannya. Entah mengapa, sentuhan sederhana itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.
Ia ingin tersenyum.
Ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Tetapi kali ini ia lelah berpura-pura.
Ian menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap Ciara. Ada keraguan di matanya, seolah ia takut dengan pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya sendiri.
"Sayang..."
Suaranya terdengar pelan.
"Ian mau tanya sesuatu."
Ciara mengangguk, memberikan perhatian penuh kepadanya.
"Iya. Kenapa tanya aja."
ian terus memandangi ciara, setelah lumayan lama ia tiba' mempertanyakan hal yang sama sekali tidak pernah ada di pikiran ciara.
"Emang kamu nggak malu ya punya pacar kayak aku?"
Ciara hanya terdiam saat ian mengatakan itu.
"Yang kakinya cuma ada satu... dan yang fisik nya kurang sempurna"
Ia berhenti sebentar. Ada senyum kecil yang dipaksakan di wajahnya, tetapi senyum itu justru terlihat lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Emang kamu nggak malu?"
Dan setelah mengatakannya, Ian merasa seolah-olah beban yang selama ini ia pendam perlahan terbuka. Namun bersamaan dengan itu, muncul rasa takut menunggu jawaban Ciara.
Ia takut mendengar sesuatu yang selama ini paling ia khawatirkan.
Takut mendengar bahwa dirinya memang tidak cukup.
Ciara menatap Ian cukup lama.
Tidak ada rasa jijik.
Tidak ada rasa malu.
Yang terlihat justru rasa sedih karena orang yang ia cintai ternyata selama ini menyimpan luka sedalam itu sendirian.
Perlahan, Ciara tersenyum.
Ia menggenggam tangan Ian lebih erat, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Kenapa aku harus malu memiliki pacar yang fisiknya kurang sempurna?"
Ian pun seketika mengangkat wajahnya.
begitupun ciara yang sedang menatap nya, dengan tatapan hangat
"Dengar ya, sayang."
dengan nada yang lembut dan penuh keyakinan ciara berkata.
"Cinta yang sempurna itu nggak harus tentang fisik."
Ciara berhenti sebentar untuk memastikan perkataan nya itu benar' di pahami oleh Ian, setelah itu ia melanjutkan perkataan nya.
"Cinta yang sempurna itu tentang ketulusan dan kesetiaan dari dua insan yang saling menerima, saling memahami, dan saling melengkapi."
"Jadi, kalau kamu bertanya apakah aku malu memiliki kamu..."
Ciara tersenyum kecil.
"Jawabannya, nggak."
Ian terdiam.
Dadanya terasa sesak, tetapi kali ini bukan karena rasa takut.
Melainkan karena ada kehangatan yang perlahan memenuhi hatinya.
Ciara kembali melanjutkan,
"Aku mencintai kamu bukan karena berapa banyak kaki yang kamu punya, bukan karena bagaimana sempurnanya fisik kamu, dan bukan karena bagaimana orang lain melihat kamu."
Ia mengusap punggung tangan Ian.
"Aku mencintai kamu karena kamu adalah kamu."
Sederhana.
Namun bagi Ian, kalimat itu terasa sangat istimewa, kalimat yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Aku mencintai ketulusan kamu. Aku mencintai cara kamu memperlakukan aku. Aku mencintai bagaimana kamu selalu berusaha membuat aku tertawa.
Mata Ian mulai berkaca-kaca.
"Dan aku nggak akan malu hanya karena kamu memiliki fisik yang berbeda."
Ciara tersenyum.
"Justru aku ingin kamu berhenti menganggap dirimu kurang."
Air mata yang sejak tadi ditahan Ian akhirnya jatuh juga.
Ia segera menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikannya. Namun Ciara tahu.
Ia tahu bahwa di balik sosok Ian yang selalu berusaha terlihat kuat dan ceria, ada seseorang yang sebenarnya sering berperang dengan dirinya sendiri.
Seseorang yang takut dirinya tidak cukup untuk dicintai.
Tanpa banyak berpikir, Ian bangkit dan memeluk Ciara dengan erat.
Ciara sempat terkejut.
Namun beberapa detik kemudian, ia membalas pelukan itu.
Ian memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sore itu, ia membiarkan dirinya berhenti melawan perasaan yang selama ini ia sembunyikan.
Ia menangis dalam pelukan Ciara.
Bukan karena merasa kasihan kepada dirinya sendiri.
Melainkan karena akhirnya ia menyadari bahwa ada seseorang yang benar-benar melihat dirinya bukan dari kekurangannya, tetapi dari hatinya.
"Terimakasih sayang.... "
Suara Ian terdengar lirih.
"Terima kasih karena masih mau mencintai ku."
Ciara mengangkat tangan nya dan mengusap kepala Ian dengan lembut.
Ian pun terdiam, ia masih tidak percaya dengan jawaban ciara tadi.
Disore itu, Ian akhirnya belajar sesuatu.
Bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kesempurnaan.
Cinta tidak meminta seseorang memiliki tubuh yang sempurna, wajah yang sempurna, ataupun kehidupan yang sempurna.
melainkan ketulusan dan kesetiaan dari dua insan yang saling melengkapi, dan saling menerima kekurangan.
Dan bagi Ian, Ciara adalah bukti bahwa dirinya tidak harus menjadi sempurna untuk layak dicintai.
Senja di sore itu pun perlahan menghilang.
Namun kenangan tentang percakapan sederhana di sebuah kafe itu akan selalu tinggal di hati mereka.
Karena pada akhirnya, cinta yang sempurna bukanlah tentang memiliki pasangan yang sempurna.
Melainkan tentang menemukan seseorang yang mampu melihat kekuranganmu,dan menerimanya.