Harga diri di ujung Kelulusan

Malam itu, suasana kamarku harusnya tenang. Aku baru saja selesai salat Isya, masih memakai mukena, dan duduk santai di kasur sambil memeluk boneka. Iseng, aku membuka HP untuk mengecek grup WhatsApp angkatan. Aku ingin tahu perkembangan video \"Last Moment\" untuk perpisahan kelas 12 nanti.
Tapi, begitu grup terbuka, dadaku langsung terasa sesak.
Grup itu ramai bukan main, tapi bukan membahas video. Seorang siswa laki-laki tiba-tiba mengirimkan tangkapan layar (screenshot) Story Instagram-ku ke grup yang isinya ratusan orang itu. Aku bingung dan heran. Aku tidak kenal dia, kami tidak pernah mengobrol, dan aku bahkan tidak mem-follow akunnya. Kok bisa-bisanya dia mengambil foto pribadiku?
Di Story itu, aku cuma mengikuti tren viral yang lagi ramai, tentang \"jangan pegang-pegang\" yang kutempel dengan fotoku sendiri. Niatku cuma seru-seruan, tapi dia malah memelintir niatku dan menjadikannya bahan tertawaan satu angkatan.
Karena aku tidak suka ribut, aku membalas pendek saja di grup: \"F A N S.\"
Aku pikir dengan begitu dia akan malu karena ketahuan terlalu \"kepo\". Tapi bukannya berhenti, balasan singkatku malah memicu badai. Tiga sampai empat siswa laki-laki lainnya ikut bergabung mengeroyokku. Mereka menghinaku habis-habisan dengan kata-kata yang sangat merendahkan.
Awalnya aku mencoba diam dan santai. Tapi lama-lama mereka makin menjadi. Rasanya sakit sekali melihat namaku diolok-olok di depan ratusan orang tanpa ada satu pun teman yang membela. Emosiku akhirnya meledak. Aku tidak tahan lagi.
Aku mencoba menelepon mereka satu per satu. Aku ingin bicara baik-baik sebagai manusia, \"Kenapa kalian begini? Apa salahku?\"
Tapi di telepon pun, mereka malah menyepelekan itu. seolah-olah rasa sakit hatiku cuma mainan buat mereka. Bahkan, chat pribadiku yang mengajak damai dengan kepala dingin malah mereka screenshot lagi dan dikirim balik ke grup untuk ditertawakan bersama-sama.
Malam itu juga, air mataku mengering berganti rasa muak yang luar biasa. Aku sadar, ini sudah masuk perundungan atau bullying. Mereka sudah keterlaluan.
Aku tidak mau menunggu sampai besok. Malam itu juga, dengan tangan yang masih bergetar karena marah, aku langsung menghubungi guru BK lewat pesan pribadi. Aku mengirimkan semua bukti dan melaporkan perbuatan mereka saat itu juga.
Aku melapor bukan karena aku takut atau lemah menghadapi mereka. Aku melapor karena aku ingin mencari keadilan. Niat tulusku untuk menyelesaikan masalah dengan cara damai tidak pernah mereka hargai, jadi aku butuh pihak ketiga untuk bertindak.


