Aku Tumbuh dari Ketakutan

Prolog
Tidak semua luka terlihat. Ada yang tumbuh diam-diam sejak kecil, membentuk seseorang menjadi terlalu takut untuk salah, terlalu terbiasa mengalah, dan terlalu pandai menyembunyikan tangis.
Ini adalah cerita tentang seorang anak yang belajar diam bukan karena ia lemah, tetapi karena diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Bagian I: Pelajaran Pertama
Sejak kecil, aku mengerti satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun: di rumah ini, suara bisa berbahaya.
Aku belajar membaca suasana dari hal-hal kecil langkah kaki yang terdengar lebih berat, pintu yang ditutup sedikit lebih keras, dan keheningan yang terasa menekan dada. Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, aku justru belajar berlayar di tengah badai yang tak pernah reda.
Hidup cuma sekali, kata orang. Tapi entah kenapa aku harus menjalaninya dengan ayah yang berkali-kali membuatku merasa seperti keberadaan adalah kesalahan. Hidup cuma sekali, malah punya ayah yang ingin melenyapkan anaknya sendiri berkali-kali.
Aku masih sangat kecil saat pertama kali dipukul. Bukan karena kejahatan besar. Bukan karena aku anak nakal. Hanya karena aku lengah sebentar, lalai menjaga adikku kesalahan yang terlalu berat untuk tubuh sekecil itu.
Ayah mengangkat sesuatu yang keras. Satu pukulan. Lalu satu lagi. Tubuhku refleks menangis, seperti anak kecil pada umumnya. Namun tangis tidak menghentikan apa pun. Tangis justru membuat amarahnya semakin menjadi, seperti minyak yang disiram ke api.
Di tengah rasa sakit itu, aku mengerti sesuatu yang tidak pernah dijelaskan dengan kata-kata: menangis bukan permintaan tolong menangis adalah kesalahan.
Ibuku ada di sana. Aku berharap ia akan memelukku, atau setidaknya berkata, \"Sudah, cukup.\" Tapi yang datang justru kalimat yang membuatku merasa lebih kecil lagi bahwa semua ini salahku, bahwa aku seharusnya lebih mengerti, lebih hati-hati, lebih tidak menjadi beban.
Sejak hari itu, aku belajar menahan air mata. Bukan karena aku tidak sakit, melainkan karena aku tahu rasa sakit bisa bertambah kalau aku berani menunjukkannya.
Bagian II: Menjadi Bayangan
Tahun-tahun berlalu. Pukulan tidak selalu datang dalam bentuk yang sama. Kadang tangan. Kadang kaki. Kadang sabuk. Kadang hanya suara yang meninggi dan tatapan yang membuat tubuhku mengecil dengan sendirinya seperti kertas yang terbakar perlahan dari tepinya.


