Ber-IPM Itu Tentang Menjadi Manusia yang Bertumbuh

Boleh aku tanya sesuatu dulu?

Waktu pertama kali kamu masuk IPM apa yang kamu rasakan?

Senang? Bangga? Atau justru bingung, ragu, bahkan terpaksa?

Tidak perlu dijawab keras-keras. Cukup dalam hati saja. Karena aku yakin, jawaban kita tidak jauh berbeda. Tidak semua orang yang masuk IPM langsung mencintai organisasi ini. Ada yang datang karena disuruh senior. Ada yang ikut supaya tidak dianggap tidak peduli. Ada yang masuk tanpa benar-benar tahu IPM itu apa, untuk apa, dan akan membawanya ke mana. Dan kalau kamu salah satunya tenang. Kamu tidak sendirian. Karena dulu, aku pun seperti itu.

Aku bukan kader yang lahir dari keluarga aktivis. Bukan pula anak yang sejak kecil sudah suka rapat dan berorganisasi. Aku tumbuh di lingkungan yang SDM-nya terbatas, fasilitasnya seadanya, dan atmosfer organisasinya nyaris tidak ada. Kalau boleh jujur, dulu aku termasuk yang paling malas mendengar kata “organisasi.”

Dalam kepalaku waktu itu cuma ada 2 pertanyaan dan 1 pernyataan:

Untuk apa buang-buang waktu?

Hasilnya apa?

Capek sendiri paling akhirnya.

Tapi kemudian keadaan mendorongku untuk mencoba. Bukan karena aku siap. Bukan karena aku mau. Tapi karena terkadang hidup memang tidak menunggu kita benar-benar siap. Dan dari keterpaksaan itulah semuanya dimulai. Yang aneh dan mungkin juga kamu akan merasakannya suatu hari nanti justru dari titik yang tidak kita pilih itulah kita paling banyak belajar. Di IPM, aku tidak hanya belajar cara memimpin rapat atau menyusun program kerja. Aku belajar hal-hal yang tidak ada di buku pelajaran mana pun.

Belajar berbicara di depan orang tanpa gemetar berlebihan. Belajar menerima kritik tanpa langsung merasa diserang. Belajar mendengar pendapat orang lain meski dalam hati tidak setuju. Belajar menahan ego saat suasana memanas. Belajar tetap hadir, bahkan ketika capek sudah sampai di ubun-ubun.

Semua itu tidak datang dalam satu malam. Semuanya dibangun perlahan, dari rapat ke rapat, dari kegiatan ke kegiatan, dari kesalahan ke kesalahan.

Dan hari ini aku berdiri sebagai Ketua Bidang Organisasi PD IPM Lampung Utara 2024-2026.

Kalau ada yang bilang hal ini padaku beberapa tahun lalu, mungkin aku sendiri yang pertama kali tertawa tidak percaya.

Tapi bukan jabatan itu yang ingin aku ceritakan.

Yang ingin aku ajak kamu pikirkan bersama adalah ini: IPM bukan tentang seberapa tinggi posisi yang kamu capai. IPM adalah tentang seberapa jauh kamu bertumbuh dari titik di mana kamu memulai. Seseorang yang dulu tidak berani angkat tangan di forum, lalu akhirnya berani menyampaikan pendapat itu pertumbuhan. Seseorang yang dulu mudah menyerah ketika dihadapkan pada tekanan, lalu belajar bertahan itu juga pertumbuhan. Seseorang yang dulu menganggap kritik sebagai serangan, lalu mulai bisa menerimanya sebagai bentuk kepedulian itu pertumbuhan yang sesungguhnya. Dan pertumbuhan seperti itu tidak bisa dibeli. Tidak bisa diwakilkan. Hanya bisa didapat dari proses yang kamu jalani sendiri. Mungkin sekarang kamu sedang berada di lingkungan yang terasa sulit. SDM yang belum merata. Fasilitas yang pas-pasan. Anggota yang sulit diajak serius. Senior yang kadang membingungkan. Program yang berjalan separuh jalan. Aku tidak akan bilang semua itu tidak nyata. Karena itu nyata. Dan hampir setiap pimpinan pernah merasakannya.

Tapi izinkan aku bilang satu hal:

Hampir semua proses besar selalu dimulai dari keadaan yang tidak sempurna. Organisasi tidak menjadi besar karena fasilitas lengkap sejak awal. Ia menjadi besar karena ada manusia-manusia yang memilih untuk tetap bergerak meski keadaan belum ideal. Yang tetap hadir meski tidak ada yang mewajibkan. Yang tetap mencoba meski gagal lebih sering daripada berhasil. Kalau semuanya sudah sempurna sejak awal, lalu apa yang perlu diperjuangkan?

Di perjalananmu ber-IPM nanti, kamu pasti akan menemukan banyak hal yang tidak menyenangkan. Ada perbedaan pendapat yang memanas. Ada orang yang sulit menerima kritik. Ada yang semangatnya besar di awal, lalu pelan-pelan menghilang. Ada yang pergi tanpa pamit. Ada keputusan yang terasa tidak adil.

Itu bukan tanda bahwa IPM-mu gagal.

Itu tanda bahwa kamu sedang belajar menghadapi manusia. Dan menghadapi manusia dengan segala kompleksitasnya adalah salah satu pelajaran paling berharga yang bisa kamu dapatkan sebelum terjun ke dunia yang jauh lebih keras di luar sana. Karena dunia luar tidak akan selalu ramah. Tidak semua rekan kerja akan mudah diajak bicara. Tidak semua atasan akan adil. Tidak semua situasi akan berpihak padamu. Tapi kalau hari ini kamu sudah belajar mendengar, belajar bertahan, belajar memperbaiki diri kamu sedang membangun fondasi untuk menghadapi semua itu.

IPM bukan tempat untuk mencari manusia sempurna. IPM adalah tempat untuk belajar bersama-sama menjadi lebih baik. TM1, TM2, TM3 memang penting tapi itu hanya pintu masuk. Makna sesungguhnya dari ber-IPM dimulai setelah itu. Saat kamu mulai sadar bahwa organisasi ini bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan perjalanan panjang untuk mengenal siapa dirimu sebenarnya dan siapa yang ingin kamu jadikan dirimu. Jadi, kalau hari ini kamu masih ragu, masih merasa belum siap, masih bertanya-tanya apakah ini semua ada artinya

Tetap hadir. Tetap coba. Tetap mau belajar.

Karena suatu hari nanti, mungkin kamu akan berdiri di titik yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Dan kamu akan menoleh ke belakang, lalu tersenyum, mengingat bahwa semuanya dimulai dari satu langkah kecil yang kamu ambil meski waktu itu kamu pun belum yakin.

Dari organisasi sederhana bernama IPM, kita sedang belajar menjadi manusia yang tidak berhenti bertumbuh.

Dan perjalanan itu masih panjang. Mari kita tempuh bersama🤍🙌.

Untuk seluruh adik-adik Pimpinan Ranting IPM Lampung Utara aku paham, menggerakkan organisasi di tengah anggota yang belum sadar, lingkungan yang tidak supportif, bahkan tekanan dari dalam yang seharusnya tidak ada, itu bukan hal kecil. Itu berat. Dan wajar kalau kadang kalian bertanya, “untuk apa aku masih di sini?” Tapi justru pertanyaan itu yang membuktikan bahwa kalian peduli dan kepedulian di tengah keterbatasan seperti ini adalah modal paling langka yang bisa dimiliki seorang kader. Tidak semua orang sanggup bertahan di posisi kalian. Maka jangan remehkan diri sendiri hanya karena hasilnya belum terlihat. Proses yang kalian jalani hari ini, sekecil apapun, sedang membentuk sesuatu dalam diri kalian yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa disingkat. Hidup Pelajar. Jayalah IPM. – Ricky Pratama

Oleh: Ricky Pratama | Ketua Bidang Organisasi PD IPM Lampung Utara