Sunyi Yang Tidak Pernah Sembuh

PROLOG

Sunyi yang Tidak Pernah Pulang

Ada masa dalam hidup seorang anak ketika dunia seharusnya terasa hangat: bau kapur tulis di pagi hari, seragam yang kebesaran, dan langkah kecil yang ingin duduk paling depan. Namun tidak semua anak mendapat masa itu secara utuh. Ada anak-anak yang belajar terlalu cepat bahwa dunia bisa kejam, bahkan sebelum mereka tahu bagaimana cara melindungi diri.

Aku adalah salah satu dari anak-anak itu.

Sunyi dalam hidupku tidak muncul dari kehilangan besar atau tragedi besar. Sunyi itu lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh orang-orang seusia denganku tawa yang diarahkan kepadaku, perintah yang tak pernah punya pilihan, uang mainan yang diselipkan ke tanganku, dorongan yang membuat tubuhku menabrak rak sepatu, dan keheningan yang kupeluk karena tak ada yang mau memelukku.

Semua itu kecil. Kecil sekali.

Tapi luka kecil, jika dilakukan terus-menerus, akan mengubah seseorang.

Dan aku berubah.

Ada bagian dari diriku yang berhenti tumbuh di ruang kelas kecil itu. Bagian yang tetap berjongkok di bawah pohon jambu sambil memegang uang palsu. Bagian yang terjatuh di depan rak sepatu dan hanya bisa bangkit tanpa suara. Bagian yang belajar bahwa diam lebih aman daripada melawan.

Waktu memang membuat tubuhku dewasa suara lebih tegas, langkah lebih yakin, peran di organisasi lebih besar. Tapi waktu tidak menyembuhkan semuanya. Ada sunyi yang tetap tinggal, meskipun dunia melihatku sebagai seseorang yang kuat.

Prolog ini bukan untuk membuat luka itu tampak indah.

Luka itu tidak indah.

Ia nyata, ia membekas, ia hidup.

Ini adalah prolog bagi kisah seorang anak yang martabatnya pernah diremukkan oleh tangan-tangan kecil teman sekelasnya sendiri.

Prolog tentang suara yang dibungkam sebelum sempat tumbuh.

Prolog tentang sebuah sunyi yang, bahkan setelah aku dewasa, tetap tinggal di dalam dada sebagai jejak paling tajam dari masa kecilku.

Dan begitulah ceritanya dimulai:

dari seorang anak kecil yang tidak pernah ingin menjadi pusat perhatian…

Tetapi selalu menjadi sasaran.

 

I.Anak yang Selalu Diam

Aku tidak pernah benar-benar mengerti kapan tepatnya dunia mulai memperlakukanku sebagai sesuatu yang pantas diinjak. Mungkin sejak kelas dua. Mungkin sejak tubuhku lebih kecil dari teman-teman lain, suaraku lebih lirih, langkahku lebih pelan. Atau mungkin sejak aku menunjukkan bahwa aku bukan tipe yang membalas ketika disakiti.

Mereka anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, lebih lantang menemukan target empuk di diriku. Dan seperti semua yang menemukan sasaran mudah, mereka menembak tanpa ampun.

Hari itu matahari baru naik setengah, tapi halaman sekolah sudah panas dan padat. Aku duduk sendirian di bawah pohon jambu, memegang uang recehan yang diberikan Ibu untuk jajan.

Salah satu dari mereka mendekat. Wajahnya teduh seperti anak baik-baik, tapi tatapan matanya… dingin, penuh rencana.

“Ki,” katanya pelan, “belikan gorengan di kantin, ya.”

Aku mengangguk. Aku terbiasa disuruh. Tidak pernah diberi kesempatan untuk menolak.

“Pakai uang ini,” ujarnya sambil menaruh sesuatu di tanganku.

Aku melihatnya. Uang kertas. Warnanya sama seperti uang asli… tapi teksturnya tipis, licin, dan sudutnya sedikit sobek.

Uang mainan.

Semuanya terasa berhenti sesaat.

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, tangan seseorang menepuk kepalaku cukup keras bukan sayang, tapi seperti mengetuk pintu rumah kosong. “Cepet. Jangan lama. Kalau kantinnya marah, bilang aja kamu yang salah.”

Aku menelan ludah.

Dan aku berlari.

 

 

II.Kantin dan Ejekan

Kakiku bergetar ketika tiba di depan kantin. Ibu kantin itu terkenal galak. Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku tahu ini jebakan. Tapi aku tetap berdiri di sana, memegang uang itu, seperti memegang surat perintah untuk dipermalukan di muka umum.

“Bu, beli gorengan… tiga.”

Ibu itu mengambil uangnya. Sekian detik kemudian, wajahnya berubah. Matanya menyipit. Tangannya meremas uang itu.

“Ini… uang apaan?!”

Semua orang menoleh. Anak-anak yang sedang makan, yang sedang antre, semua memandangku. Beberapa langsung tertawa sebelum tahu apa yang terjadi.

Aku aku dikasih uang itu, Bu…”

“Jangan bohong!”

Sebelum sempat menjelaskan, uang itu dihantamkan ke meja. Suaranya keras. Memantul ke dadaku. Aku mundur setengah langkah.

“Bilang sama temenmu yang nyuruh besok-besok jangan main-main!”

Aku menggigit bibir. Mataku panas, tapi aku tahan.

Aku tahu mereka sedang menunggu di bawah pohon jambu, menunggu hasilnya. Menunggu aku pulang dengan wajah malu. Menunggu alasan untuk tertawa.

Dan betul begitu aku kembali, mereka sudah berbaris seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis.

“Gimana? Dapat?”

Aku hanya diam.

“Lihat wajahnya… pasti dimarahin!”

Tawa pecah. Tawa yang keras, kasar, menusuk telingaku seperti pecahan kaca.

Seseorang mendorong bahuku. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat tubuhku terhuyung. “Dasar bodoh. Masa gak tau itu uang mainan?”

Aku ingin marah. Aku ingin bilang bahwa aku tahu. Aku tidak bodoh. Aku hanya..tidak ingin memperpanjang masalah. Tidak ingin dilawan balik. Tidak ingin pulang dengan memar.

Tapi mereka tidak memberi kesempatan.

Tangan seseorang tiba-tiba menarik kerahku. Seketika tubuhku terangkat sedikit. Nafasku sesak. Dunia berputar.

“Apa gunanya orang kayak kamu kalau cuma bisa nurut?”

Dan dor! Kepala bagian belakangku dihantamkan ke dinding. Suaranya tajam. Getarannya menjalar sampai ke telapak kaki.

Aku menahan suara. Tidak boleh menangis. Tidak boleh memperlihatkan kelemahan.

Lalu aku mencoba mundur. Tapi seseorang lain menahan bahuku.

“Eh jangan lari.”

Lalu brakk!

Dorongan keras menghantam dadaku. Aku terpental ke belakang dan tubuhku menabrak rak sepatu kayu di dekat tangga. Sudut rak itu menghantam punggungku tajam, dingin, menyakitkan. Raknya bergetar. Sepatu-sepatu jatuh berserakan seperti hujan kecil.

Napas kuputus.

Punggungku panas, seperti ditusuk dari dalam.

Aku ingin menangis, tapi suara tawa mereka lebih keras dari rasa sakitku.

“Woy, kena! Hahaha!”

“Lemah banget sih!”

“Rak sepatu aja bisa ngalahin dia!”

Di puncak rasa sakit itu, aku menyadari satu hal:

Aku sudah tidak punya ruang di mana aku bisa merasa aman.

 

III.Sunyi yang Tumbuh Bersama Dewasa

Bertahun-tahun berlalu. Aku tumbuh. Tubuhku memanjang, suaraku lebih dalam, langkahku lebih pasti. Tapi ada satu bagian dalam diriku yang tidak ikut tumbuh: anak kecil yang berdiri di depan kantin itu, memegang uang mainan, ditertawakan, dipukul, dan tidak bisa membela dirinya sendiri.

Orang-orang mengira luka hanya ada di kulit. Mereka lupa bahwa luka yang menempel pada batin bisa hidup lebih lama. Bisa bertahan, menunggu, bersembunyi di dalam gelap.

Dan aku… aku membawanya sampai hari ini.

Ketika seseorang mengangkat suara padaku, dadaku langsung menegang.

Ketika seseorang menatapku dengan niat buruk, napasku tersengal.

Ketika seseorang menyuruhku melakukan sesuatu dengan nada perintah, tanganku langsung dingin, seperti masa kecilku kembali menarikku ke bawah.

Ada hari-hari ketika aku merasa baik-baik saja.

Tapi ada malam malam tertentu sunyi, dingin, ruang kamar gelap ketika bayangan masa kecil itu kembali muncul.

Aku melihat diriku sendiri: anak kecil kurus, memeluk uang mainan, berdiri menggigil di depan kantin sekolah. Dan aku versi dewasa hanya bisa menatapnya dari kejauhan.

Tidak bisa menolongnya.

Tidak bisa memeluknya.

Tidak bisa mengatakan bahwa suatu hari semuanya akan membaik.

Karena kenyataannya… tidak semua luka membaik.

Tidak semua sunyi sembuh.

Ada sunyi yang menjadi bagian dari diri kita.

Sunyi yang menetap.

Sunyi yang tumbuh bersama usia.

Sunyi yang tidak pernah benar-benar pergi, meski wajah kita sudah dewasa.

Dan itulah sebabnya cerpen ini ada.

Karena aku sudah pulih tapi tidak sembuh.

Aku sudah dewasa tapi masih membawa anak kecil itu dalam diriku.

Anak yang dulu dipukul di dinding sekolah.

Anak yang dipermalukan dengan uang mainan.

Anak yang hanya

ingin baik-baik saja, tapi dunia tidak memberinya kesempatan.

Ini adalah kisahnya.

Ini adalah kisahku.

Sunyi yang tidak pernah sembuh.

 

 

EPILOG

Tempat Pulang Bagi Sunyi

Bertahun-tahun setelah semua kejadian itu, aku kadang masih mendengar gema tawa yang sama tawa yang dulu membuatku merunduk. Bukan tawa orang-orang yang menyakitiku; mereka sudah lama hilang dari hidupku. Tapi tawa orang-orang baru, tawa sehari-hari, tawa yang seharusnya tidak berbahaya.

Tetap saja, ada bagian tubuhku yang menegang.

Ada bagian jiwaku yang kembali menjadi anak kecil itu.

Anak yang jatuh menabrak rak sepatu.

Anak yang berdiri di kantin dengan uang palsu yang diremas marah oleh Ibu kantin.

Anak yang kepalanya dipukul sambil ditertawakan.

Aku pernah berharap waktu bisa menghapus semuanya. Tapi kini aku tahu: beberapa luka memang tidak pernah hilang bukan karena aku tidak mencoba sembuh, tetapi karena luka itu terlalu dalam untuk benar-benar pergi.

Dan itu tidak apa-apa.

Ada hari-hari ketika aku membenci sunyi itu.

Ada hari-hari ketika aku ingin melupakannya, menguburnya, menghabisinya.

Tapi aku semakin mengerti bahwa sunyi itu adalah bagian dari diriku bagian yang membentuk caraku melihat dunia, caraku mencintai, caraku melindungi orang lain.

Sunyi itu tidak lagi menjadi musuh.

Ia menjadi saksi.

Saksi bahwa aku pernah disakiti.

Saksi bahwa aku pernah tidak punya suara.

Saksi bahwa tubuh kecilku dulu pernah hidup dalam ketakutan yang tidak diketahui siapa pun.

Namun sunyi itu juga saksi bahwa aku bertahan.

Bahwa aku tumbuh.

Bahwa aku sampai sejauh ini.

Dulu, aku hidup untuk bertahan.

Sekarang, aku hidup untuk memastikan tidak ada anak lain yang melalui hal yang sama tidak ada yang dipermalukan di depan kantin, tidak ada yang diseret oleh tawa yang kejam, tidak ada yang dipaksa menerima uang palsu seolah martabatnya bisa dibeli.

Jika di masa kecilku aku tidak punya siapa-siapa, setidaknya hari ini aku bisa menjadi “siapa-siapa” bagi orang lain.

Sunyi itu memang tidak pernah sembuh.

Tapi aku belajar memberinya tempat.

Tidak sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari diriku yang akhirnya kupahami.

Jika luka masa kecil adalah pintu yang tidak bisa kututup, maka aku memilih untuk menaruh cahaya di dalamnya.

Dan pada akhirnya, mungkin itulah yang disebut sembuh:

bukan ketika luka hilang…

tetapi ketika kita berhenti melarikan diri dari sunyi kita sendiri.