Tahun lalu ia tidak pulang.
Alasannya masuk akal uang pas-pasan, tiket mahal, perantauan belum menunjukkan hasil. Tapi alasan yang masuk akal tidak selalu berarti alasan yang jujur. Di balik angka-angka itu ada sesuatu yang lebih kecil dan lebih memalukan: gengsi. Malu pulang tangan kosong. Seolah seorang ibu punya syarat untuk memeluk anaknya.
Maknya membalas pesannya singkat. Iya, ndak apa-apa. Jaga diri.
Ia simpan pesan itu. Sesekali dibuka lagi, bukan karena sentimental tapi karena ada sesuatu di sana yang tidak ia mengerti. Terlalu ikhlas. Terlalu mudah. Padahal ia tahu, di balik kata-kata pendek itu, ada perempuan yang sudah menyiapkan kamarnya, mungkin sudah masak opor ayam kesukaannya, mungkin sudah cerita ke tetangga bahwa anaknya mau pulang lalu diam-diam menyimpan kekecewaan itu sendiri supaya anaknya tidak merasa bersalah. Cara ibu menyimpan luka memang tidak pernah berisik.
Tahun ini ia pulang.
Gajinya naik sedikit. Ia beli tiket jauh-jauh hari, pilih oleh-oleh dengan teliti kue kering, dodol, dan satu kain batik coklat tua dari pasar yang ia pilih sendiri karena ingat Maknya pernah bilang coklat tua adalah warna yang tidak pernah salah. Di kereta ia duduk di tepi jendela dan membiarkan dirinya senang. Tidak sering ia izinkan dirinya senang tanpa khawatir tapi hari itu ia izinkan. Ia bayangkan wajah Maknya waktu melihat kainnya. Bayangkan betapa cerewetnya nanti soal ini-itu yang berubah selama ia pergi. Bayangkan bau minyak kayu putih yang selalu mendahului kehadirannya, selalu tercium sebelum orangnya terlihat. Ia tidak memberi tahu jam berapa tiba. Ingin memberi kejutan. Ternyata ia yang terkejut.
Kakaknya berdiri di depan pintu dengan mata yang sudah selesai menangis bukan sedang, tapi sudah. Ada bedanya. Yang sedang masih bisa ditenangkan. Yang sudah, hanya bisa ditemani.
“Mak… dua minggu lalu.”
Kalimatnya tidak selesai. Tidak perlu selesai. Ia berdiri di ambang pintu dengan kantong oleh-oleh di tangan, dan sesuatu di dadanya turun perlahan seperti lantai yang tiba-tiba tidak lagi ada. Bukan roboh. Bukan hancur. Hanya turun. Pelan. Ke tempat yang tidak ada namanya.
Sore itu ia pergi ke sana.
Tanah merah. Papan kayu. Nama yang ia hafal sejak belajar mengenal huruf. Ia duduk di tepi, di akar kamboja yang tua, dan tidak melakukan apa-apa. Tidak berdoa dulu, tidak menangis dulu. Hanya duduk seperti orang yang bertamu ke rumah seseorang tapi lupa mau bicara apa. Karena memang begitu rasanya. Ia datang, tapi tidak ada yang membukakan pintu. Lama ia di sana. Sampai akhirnya ia tertawa kecil sendiri bukan karena ada yang lucu, tapi karena tiba-tiba teringat bahwa di sakunya masih ada hape yang biasa ia pakai untuk menelepon kalau bingung. Dan orang pertama yang biasa ia hubungi waktu bingung adalah perempuan yang namanya tertulis di papan itu. Kebiasaan lama mati paling belakangan.
Mak,pikirnya. Kainnya coklat tua. Persis kesukaanmu.
Angin lewat. Tidak ada yang menjawab.
Esoknya, foto keluarga.
Tradisi itu sudah ada sejak ia masih harus berjinjit supaya kepalanya masuk frame. Setiap lebaran, semua berdiri di depan rumah. Baju baru, senyum disiapkan, satu dua tiga jepret. Rebutan lihat hasilnya. Ulang kalau ada yang tidak bagus. Tapi sebelum hitungan dimulai, matanya sudah mencari sudut itu. Sebelah kirinya. Tempat yang selalu ditempati Maknya. Tempat di mana tangan itu selalu muncul tepat di hitungan ketiga, mencubit pinggangnya, membuat fotonya selalu sedikit buram karena ada yang bergerak dan itu tidak pernah jadi masalah.
Sekarang baru terasa. Foto yang buram itu justru yang paling hidup.
Seseorang berkata, “Ayo, satu dua tiga.”
Ia tersenyum. Kamera berbunyi.
Di foto itu nanti, senyumnya terlihat biasa. Tidak ada yang tahu bahwa tepat saat lampu flash menyala, ia baru saja benar-benar mengerti bukan sekadar tahu, tapi mengerti bahwa ini nyata, bahwa susunan ini tidak akan pernah kembali, bahwa ada satu tempat di sebelah kirinya yang mulai hari itu akan selalu kosong di setiap foto yang mereka ambil sampai kapanpun. Kehilangan yang paling berat bukan yang terlihat. Tapi yang harus kamu tatap diam-diam, sendirian, di tengah keramaian.
Malam terakhir ia duduk di teras.
Ia tidak mencari apa-apa. Hanya duduk. Tapi hidungnya tanpa sadar bekerja sendiri mencari bau minyak kayu putih yang selalu ada di rumah itu, yang selalu menandakan bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa ada orang yang menjaga.
Tidak ada.
Ia baru sadar bau itu bukan bau rumah. Bau itu bau orangnya. Dan orangnya sudah tidak di sini. Malam itu ia duduk dengan penyesalan yang tidak dramatis. Tidak ada isak tangis, tidak ada kepalan tangan. Hanya pikiran-pikiran kecil yang datang satu per satu, pelan, seperti tagihan yang sudah lama tertunda, Harusnya tahun lalu ia pulang. Harusnya gengsi itu tidak ia izinkan duduk lebih tinggi dari rindu. Harusnya ia bisikkan sesuatu ke telinga Maknya hal-hal kecil yang ia anggap tidak perlu diucapkan karena nanti juga ada waktu. Ternyata nanti adalah kata yang paling tidak bisa dipercaya di dunia.
Dan harusnya selalu datang setelah pintunya tertutup
Kereta membawanya pergi keesokan harinya.
Sawah yang sama. Langit yang sama. Tapi ada yang berbeda yang tidak bisa ia tunjuk seperti lagu yang melodinya familiar tapi satu nadanya hilang, dan ketidakhadiran nada itu justru yang paling terdengar. Di tasnya ada kain batik coklat tua yang tidak jadi diberikan. Ia tidak tahu harus diapakan. Tapi tidak dibuang. Mungkin cukup disimpan sebagai pengingat bahwa ada orang yang pergi sebelum sempat menerima hal-hal yang sudah disiapkan untuknya. Bahwa cinta yang tidak sempat disampaikan tidak lantas hilang ia hanya tidak punya ke mana pergi, lalu tinggal di dalam dada orang yang menyimpannya, tanpa tanggal kadaluarsa. Di luar jendela dunia berjalan seperti biasa. Dan di dalam kereta, seseorang belajar dengan cara yang tidak ia pilih, pada waktu yang tidak ia rencanakan bahwa rumah bukan tentang tempatnya. Rumah adalah orang-orang yang membuat kamu ingin pulang. Dan kalau orang itu pergi, kamu tidak kehilangan rumahnya. Kamu kehilangan alasan untuk merasa tiba.
Penutup dari penulis: Cerpen ini lahir dari perasaan yang tidak selalu mampu dijelaskan dengan kata-kata. Ia tumbuh dari sunyi, dari rindu yang datang diam-diam, dan dari sesal yang seringkali terlambat untuk diucapkan. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah lagu yang sering saya dengarkan “Sesi Potret” karya Ari Lesmana dan Enau. Lagu yang hampir setiap malam menemani, hingga tanpa sadar membawa saya larut dalam perasaan kehilangan yang begitu dalam. Ada momen di mana lagu itu tidak hanya didengar, tetapi dirasakan hingga air mata pun jatuh tanpa diminta. Melalui cerita ini, saya mencoba menerjemahkan rasa itu: tentang seseorang yang pulang, namun tidak lagi menemukan “rumah” yang sama. Tentang rindu yang tak bisa disampaikan, dan tentang ikhlas yang ternyata tidak semudah yang sering diucapkan. Jika kamu pernah merasa kehilangan, mungkin cerita ini bukan sekadar ceritamelainkan cermin kecil dari perasaan yang pernah kamu sembunyikan.
Oleh: Ricky Pratama | Ketua Bidang Organisasi PD IPM Lampung Utara


