LAMPUNG UTARA, 13 September 2026 — Dua tahun perjalanan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Lampung Utara periode 2024–2026 menemukan titik refleksinya dalam Musyawarah Daerah (Musyda) ke-XI. Bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, Musyda menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan gerakan sekaligus meneguhkan arah baru IPM Lampung Utara.
Mengusung tema “Membumikan Arah Gerakan Menuju IPM Berdampak”, Musyda XI IPM Lampung Utara berlangsung di Aula Rektorat Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), 12–13 September 2026. Forum ini mempertemukan kader, pimpinan, alumni, serta berbagai unsur Muhammadiyah untuk bersama-sama membicarakan masa depan gerakan pelajar di Lampung Utara.
Sejumlah tokoh dan unsur organisasi turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anggota DPRD Lampung Utara Ernando Ferdiansyah, Sekretaris PDM Lampung Utara drs. Najibudin Ahmad, Sekretaris Umum PW IPM Lampung Yogi Daumar Jaya, Wakil Rektor III UMKO Dr. Suwarni, S.H., M.H., CM., CPCLE, serta unsur Kwarda Hizbul Wathan, PD ‘Aisyiyah, PD Nasyiatul ‘Aisyiyah, PD Pemuda Muhammadiyah, PC IMM Lampung Utara, ortom Muhammadiyah, UKM dan IKMA se-UMKO, Forum OSIS Lampung Utara, Forum Pelajar Lampung, serta jajaran PD IPM Lampung Utara dan pimpinan ranting. Bagi PD IPM Lampung Utara, Musyda kali ini menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi. Berbagai proses yang telah dilalui selama satu periode menjadi bahan evaluasi untuk melihat apa yang telah tumbuh, apa yang masih perlu diperbaiki, serta apa yang harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Sekretaris Umum PW IPM Lampung, Yogi Daumar Jaya, menegaskan bahwa tema IPM berdampak harus diterjemahkan dalam bentuk gerakan yang benar-benar menjawab kebutuhan pelajar. Menurutnya, kader IPM harus mampu melihat persoalan di sekitarnya secara lebih kritis, kemudian mengubah kegelisahan tersebut menjadi gagasan dan tindakan. “Gerakan IPM harus hadir sebagai jawaban. Kita perlu memastikan bahwa apa yang dilakukan organisasi tidak hanya selesai dalam forum, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh pelajar dan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap Musyda XI mampu melahirkan kepemimpinan yang memiliki keberanian untuk membawa IPM Lampung Utara semakin adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai organisasi pelajar Muhammadiyah.
Sementara itu, Sekretaris PDM Lampung Utara, drs. Najibudin Ahmad, menilai Musyda merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi sekaligus menentukan arah perjalanan organisasi pada periode berikutnya. Menurutnya, proses musyawarah harus menjadi ruang untuk melahirkan keputusan yang terbaik bagi organisasi dan kepemimpinan yang mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Ia berharap regenerasi yang berlangsung mampu menjaga kesinambungan gerakan sekaligus menghadirkan semangat baru bagi perkembangan IPM Lampung Utara.
Anggota DPRD Lampung Utara Ernando Ferdiansyah melihat IPM sebagai salah satu ruang strategis bagi pelajar untuk mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, pengalaman dalam organisasi dapat membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, serta kepedulian terhadap persoalan di lingkungan sekitar. Musyda XI IPM Lampung Utara pada akhirnya bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah periode kepemimpinan. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan PD IPM Lampung Utara selama dua tahun terakhir sebuah perjalanan yang dibangun dari proses belajar, konsolidasi, kaderisasi, kerja bersama, dan keberanian untuk terus bergerak di tengah berbagai keterbatasan.
Periode 2024–2026 menjadi bagian dari perjalanan yang telah mempertemukan banyak kader dalam satu ruang perjuangan. Dari pimpinan daerah hingga pimpinan ranting, dari mereka yang berada di balik meja organisasi hingga mereka yang turun langsung menemui kader dan pelajar, semuanya menjadi bagian dari cerita yang membentuk wajah IPM Lampung Utara hari ini. Tidak semua langkah berjalan sempurna. Ada program yang berhasil diwujudkan, ada pula yang masih menjadi pekerjaan rumah. Ada keputusan yang tepat, ada pula proses yang mengajarkan bagaimana sebuah organisasi harus terus berbenah. Namun, dari seluruh dinamika tersebut, satu hal tetap menjadi kekuatan: gerakan ini tidak pernah berhenti untuk mencoba. PD IPM Lampung Utara selama periode ini bukan hanya tentang struktur dan jabatan, melainkan tentang orang-orang yang memilih untuk bertumbuh bersama. Tentang kader yang belajar memimpin, pimpinan yang belajar mendengar, dan sebuah gerakan yang terus mencari cara agar keberadaannya benar-benar berarti bagi pelajar dan lingkungan di sekitarnya.
Kini, satu fase telah sampai pada penghujungnya. Namun, berakhirnya sebuah kepemimpinan tidak berarti berakhirnya sebuah perjuangan. Apa yang telah dibangun akan menjadi pijakan, apa yang belum selesai menjadi pekerjaan bagi generasi berikutnya, dan apa yang telah menjadi pengalaman akan menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh. Estafet itu kini kembali berpindah tangan. Generasi baru akan membawa cerita mereka sendiri, dengan tantangan yang mungkin berbeda dan gagasan yang mungkin lebih berani. Harapannya, mereka tidak hanya meneruskan nama besar organisasi, tetapi juga meneruskan semangat untuk menjadikan IPM sebagai ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang pengabdian bagi pelajar Muhammadiyah.
Sebab pada akhirnya, sebuah periode tidak diukur dari berapa lama ia berlangsung, tetapi dari apa yang ditinggalkannya. Dan sebuah gerakan tidak dikenang karena seberapa banyak ia berbicara, melainkan karena seberapa nyata kebermanfaatan yang pernah diberikannya. PD IPM Lampung Utara 2024–2026 mungkin telah sampai pada akhir masa kepemimpinan, tetapi cerita, nilai, persaudaraan, dan jejak gerakannya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan panjang IPM Lampung Utara menuju masa depan.
Dari satu periode, untuk estafet yang lebih panjang. Dari sebuah gerakan, untuk perubahan yang lebih berdampak.
Oleh: Ricky Pratama | Ketua Tim Redaksi PD IPM Lampung Utara


