Komitmen Muhammadiyah dalam menjaga dan menguatkan tradisi literasi kembali ditegaskan melalui kegiatan Pelatihan Penulisan Sejarah Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan MPI Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Festival Pers dan Literasi Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Metro.
Pelatihan tersebut diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri atas pengelola media persyarikatan, kader Muhammadiyah, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta unsur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Lampung. Para peserta dibekali pemahaman konseptual dan teknis terkait penulisan sejarah organisasi yang berbasis data, arsip, dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua MPI PP Muhammadiyah menegaskan bahwa penulisan sejarah memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi merupakan fondasi ideologis yang menopang arah perjuangan organisasi di masa kini dan masa depan.
“Muhammadiyah lahir dari tradisi literasi. Membaca, menulis, dan mendokumentasikan perjalanan organisasi adalah bagian dari dakwah itu sendiri. Jika sejarah tidak ditulis dengan baik, maka kita berisiko kehilangan memori kolektif tentang perjuangan dan kontribusi Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sejak awal berdiri, Muhammadiyah telah memanfaatkan media dan tulisan sebagai sarana dakwah dan pencerahan. Terbitnya majalah Suara Muhammadiyah pada 1915 menjadi bukti bahwa pers dan literasi merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan tajdid yang diusung Muhammadiyah.
Sementara itu, Ketua MPI PWM Lampung menyampaikan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh masih minimnya dokumentasi sejarah Muhammadiyah di tingkat daerah. Banyak dinamika dan kontribusi Muhammadiyah di Lampung yang belum tercatat secara sistematis, sehingga berpotensi hilang seiring berjalannya waktu.
“Lampung memiliki sejarah panjang Muhammadiyah dengan berbagai amal usaha dan tokoh penting. Namun, jika tidak segera ditulis dan diarsipkan, sejarah itu bisa terlupakan. Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran sekaligus kemampuan menulis sejarah lokal Muhammadiyah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penulisan sejarah Muhammadiyah di daerah tidak hanya penting bagi kepentingan internal organisasi, tetapi juga sebagai kontribusi terhadap historiografi nasional. Sejarah Muhammadiyah di daerah mencerminkan peran nyata organisasi dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan keagamaan di tengah masyarakat.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mendorong peserta untuk mulai mengidentifikasi sumber-sumber sejarah, seperti arsip organisasi, dokumen lama, foto, serta kesaksian para pelaku sejarah. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan lahir tulisan-tulisan sejarah yang akurat, kaya perspektif, dan memiliki nilai akademik.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PWM Lampung menegaskan bahwa penguatan literasi dan penulisan sejarah merupakan bagian dari strategi dakwah Muhammadiyah di era digital.
“Sejarah adalah cermin perjalanan gerakan. Dengan memahami masa lalu, kita dapat menata masa depan dengan lebih bijak. Penulisan sejarah Muhammadiyah harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya tugas segelintir orang,” tegasnya.
Festival Pers dan Literasi Muhammadiyah sendiri dirancang sebagai ruang konsolidasi gerakan literasi persyarikatan. Selain pelatihan penulisan sejarah, kegiatan ini juga mencakup inventarisasi heritage Muhammadiyah serta penguatan kapasitas jurnalis dan pengelola media Muhammadiyah melalui berbagai diskusi dan lokakarya.
Melalui sinergi antara MPI PP Muhammadiyah, MPI PWM Lampung, serta seluruh elemen persyarikatan, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi penulis sejarah Muhammadiyah yang kompeten dan berintegritas. Ke depan, hasil dari pelatihan ini ditargetkan dapat dipublikasikan dalam bentuk buku, artikel, maupun arsip digital yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Dengan demikian, Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai gerakan dakwah dan amal usaha, tetapi juga sebagai gerakan intelektual yang mampu merawat ingatan kolektif, memperkuat identitas organisasi, serta memberi sumbangan penting bagi pembangunan peradaban bangsa melalui literasi dan sejarah. (joko/vina)
sumber : https://www.wartamu.id/mpi-pp-dan-pwm-lampung-gelar-pelatihan-penulisan-sejarah-muhammadiyah/




