IPM: Kamu Sudah Aktif, Tapi Sudah Benar-Benar Ber-IPM?

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun.

Tulisan ini justru lahir dari sebuah kegelisahan yang saya yakin pernah atau bahkan sering muncul dalam diam di kepala banyak kader IPM: “Aku sudah aktif di IPM. Tapi… apakah aku benar-benar sudah ber-IPM?”

Kalau pertanyaan itu pernah terlintas di pikiranmu, maka tulisan ini memang untuk kamu. Dan sebelum bicara lebih jauh, saya ingin jujur tentang satu hal: saya pernah berada tepat di posisi yang sama seperti kamu.

•Saya Pun Pernah Di Sana

Dulu, saya adalah kader yang merasa bahwa selama program kerja berjalan, maka organisasi sudah berjalan dengan baik. Saya ikut rapat, saya bantu kegiatan, saya hadir di hampir setiap agenda. Di mata orang lain, mungkin saya terlihat aktif. Tapi di dalam, ada yang terasa hampa. Saya pernah punya pendapat dalam rapat, tapi memilih diam. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa tapi karena saya tidak yakin suara saya akan didengar. Bahkan lebih jujur lagi: saya tidak cukup berani untuk menyuarakan apa yang saya pikirkan. Saya pernah melihat sebuah program kerja yang menurut saya kurang relevan, tapi saya ikut saja. Yang penting jalan begitu pikir saya waktu itu. Karena mempertanyakan terasa seperti mempersulit. Karena mengusulkan perubahan terasa seperti mencari masalah. Dan saya rasa banyak kader IPM, di manapun mereka berada, pernah merasakan hal yang sama.

•Lalu Ada yang Berubah

Perubahan itu tidak terjadi seketika. Tidak ada satu momen dramatis yang tiba-tiba membuat saya berbeda. Tapi perlahan, saya mulai berani mengajukan pertanyaan yang sebelumnya saya tahan sendiri. Apakah kegiatan ini benar-benar menjawab kebutuhan pelajar? Apakah program ini benar-benar menjangkau mereka yang seharusnya dijangkau?

Dan yang lebih mengejutkan: pertanyaan itu ternyata tidak membuat saya disingkirkan. Justru sebaliknya ia membuka diskusi. Ia menggerakkan sesuatu. Saya mulai menyadari bahwa suara saya, yang dulu saya anggap tidak cukup penting untuk disampaikan, ternyata kadang mampu mengubah arah sebuah keputusan. Saya mulai memberikan ide kegiatan bukan sekadar usul di permukaan, tapi dengan konsep yang matang, tujuan yang jelas, dan pemahaman tentang siapa yang ingin dijangkau.

Dan dari sana saya mengerti: inilah yang dimaksud dengan benar-benar ber-IPM.

Bukan karena saya kini punya jabatan. Bukan karena saya lebih pintar dari kader lain. Tapi karena saya akhirnya mulai menggunakan organisasi ini sebagaimana seharusnya ia digunakan sebagai ruang untuk berpikir, berdebat, dan berkontribusi secara bermakna.

•Bayangkan Ini

Kamu sudah rutin hadir di rapat. Namamu ada di hampir setiap susunan kepanitiaan. Kamu yang angkat kursi waktu persiapan acara, kamu yang terakhir pulang waktu beres-beres. Kamu yang selalu bisa dihubungi ketika organisasi butuh bantuan. Di mata orang lain, kamu adalah kader yang aktif. Bahkan mungkin salah satu yang paling aktif. Tapi di satu malam, ketika semua kegiatan selesai dan kamu akhirnya sendirian, muncul pertanyaan kecil yang menggelitik: sebetulnya, aku belajar apa dari semua ini? Dan kamu tidak tahu harus menjawab apa. Kalau itu yang kamu rasakan saya tahu persis rasanya. Dan yang lebih penting: itu bukan tanda bahwa kamu gagal. Justru itu tanda bahwa kamu mulai berpikir dengan benar tentang apa artinya berorganisasi.

•Aktif Itu Perlu. Tapi Aktif Saja Belum Cukup.

Mari kita jujur tentang satu hal. Selama ini, tanpa sadar, banyak dari kita mengukur seberapa “ber-IPM”-nya seseorang dari seberapa sering ia terlihat. Seberapa sering hadir. Seberapa banyak kegiatan yang diikuti. Seberapa besar kontribusi fisiknya dalam setiap program kerja. Dan ukuran itu tidak salah. Kehadiran dan kontribusi itu nyata dan dibutuhkan. Tapi ukuran itu tidak lengkap. Karena IPM dari awal tidak dirancang hanya untuk menghasilkan pelajar yang rajin bekerja. IPM dirancang untuk menghasilkan pelajar yang tahu mengapa mereka bekerja. Perbedaan antara dua hal itu terdengar kecil, tapi dampaknya sangat besar. Pelajar yang rajin bekerja akan menjalankan program karena sudah terjadwal. Pelajar yang tahu mengapa ia bekerja akan menjalankan program karena ia memahami nilainya dan akan berani mempertanyakan, bahkan mengubah, program itu jika ternyata tidak relevan. Yang pertama menggerakkan kegiatan. Yang kedua menggerakkan perubahan.

•IPM Pernah Menyebut Dirinya “Sekolah Kepemimpinan Pelajar.” Tapi Apa Artinya?

Sebutan itu bukan slogan kosong. Ia lahir dari sebuah keyakinan: bahwa organisasi pelajar seharusnya menjadi tempat di mana seorang pelajar benar-benar dibentuk bukan hanya dilatih bekerja, tapi dilatih berpikir, berdebat, membaca realitas, dan memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Dalam sebuah sekolah yang baik, muridnya tidak hanya hadir. Muridnya belajar. Dan belajar berarti ada sesuatu yang berubah cara berpikir, cara memandang persoalan, cara mengambil keputusan.

Pertanyaannya sekarang: apakah hal itu terjadi pada kita?

Apakah setelah satu periode aktif di IPM, cara kita berpikir benar-benar berubah? Apakah kita menjadi lebih kritis? Lebih peka terhadap persoalan pelajar di sekitar kita? Lebih berani menyuarakan pendapat, bahkan ketika itu tidak populer?

Kalau jawabannya iya maka kamu sedang benar-benar ber-IPM. Kalau jawabannya tidak yakin maka mungkin inilah saatnya mulai memaknai ulang.

•Tanda-Tanda Bahwa Kamu Benar-Benar Sedang Ber-IPM

Bukan soal jabatan. Bukan soal seberapa banyak kegiatan yang kamu ikuti. Ini soal apa yang terjadi di dalam kepalamu dan hatimu selama kamu berada di dalam organisasi ini.

Kamu ber-IPM ketika kamu mulai tidak puas hanya dengan “kegiatan berjalan lancar. Kamu mulai bertanya: apa dampaknya? Siapa yang benar-benar terbantu? Apakah ini kegiatan yang tepat untuk kondisi pelajar saat ini?

Kamu ber-IPM ketika kamu berani mengangkat tangan di rapat, meskipun pendapatmu berbeda. Bukan untuk menang debat. Tapi karena kamu percaya bahwa gagasanmu perlu didengar dan diuji bersama.

Kamu ber-IPM ketika kamu mulai peduli pada pelajar yang tidak ada di dalam IPM. Karena organisasi ini lahir bukan hanya untuk kadernya sendiri. Ia lahir untuk menjangkau dan memberi makna bagi pelajar yang lebih luas.

Kamu ber-IPM ketika kamu merasakan bahwa organisasi ini mengubahmu bukan hanya menyibukkanmu. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara kamu melihat persoalan. Ada keberanian baru yang tumbuh. Ada rasa tanggung jawab yang tidak kamu rasakan sebelumnya.

•Mengapa Makna Ini Sering Terlupakan?

Bukan karena kadernya malas berpikir. Justru sebaliknya. Banyak kader IPM adalah orang-orang yang bersemangat, yang ingin berkontribusi, yang rela meluangkan waktu dan tenaga untuk organisasi. Niatnya sudah benar. Tapi terkadang, sistem organisasi yang terlalu berorientasi pada kegiatan tanpa disadari menggeser fokus itu. Ketika yang diukur hanya program kerja terlaksana atau tidak, maka yang dikejar adalah kegiatan. Ketika yang dibicarakan di setiap rapat hanya teknis pelaksanaan, maka ruang untuk berpikir lebih dalam menjadi sempit. Saya sendiri pernah terjebak dalam pola itu. Sibuk, merasa berkontribusi, tapi sebenarnya belum menyentuh inti dari apa yang IPM tawarkan. Dan saya tidak mau kader-kader lain mengulang perjalanan yang sama tanpa ada yang memberitahu bahwa ada dimensi yang lebih dalam untuk dijangkau.

•Maka, Mulai dari Mana?

Tidak perlu menunggu momen besar. Tidak perlu menunggu ada pelatihan khusus atau forum refleksi yang diadakan secara formal. Mulailah dari pertanyaan kecil yang diajukan dengan jujur kepada dirimu sendiri, kepada teman-teman satu pimpinan, kepada organisasi.

Mengapa kita membuat program kerja ini?

Apa yang benar-benar ingin kita ubah dari kondisi pelajar di sekitar kita?

Setelah periode ini selesai, apa yang ingin kita tinggalkan?

Saya pun memulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu. Dan dari sana, perlahan, saya menemukan bahwa suara saya ternyata punya tempat. Bahwa ide yang dipikirkan dengan matang dan tujuan yang jelas bisa menggerakkan orang lain. Bahwa ber-IPM bukan hanya tentang kehadiran tapi tentang keberanian untuk hadir secara penuh: dengan pikiran, dengan gagasan, dan dengan keberanian untuk menyuarakannya.

•Penutup: Perjalanan Ini Milik Kamu Juga

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk membuat siapa pun merasa bahwa kontribusinya selama ini tidak berarti. Setiap kader yang pernah hadir di rapat, yang pernah membantu menyiapkan acara, yang pernah meluangkan waktunya untuk organisasi kontribusi itu nyata dan berharga. Saya tahu, karena saya pun pernah memulai dari sana. Tapi IPM mengundang kita untuk tidak berhenti di sana. Saya bukan menulis ini karena saya sudah sempurna dalam ber-IPM. Saya menulis ini justru karena saya tahu betul bagaimana rasanya belum sampai ke sana dan saya ingin kamu tahu bahwa perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam itu mungkin, dan ia dimulai dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Sebab ber-IPM yang sesungguhnya bukan tentang seberapa sibuk kamu di dalam organisasi. Tapi tentang seberapa banyak organisasi itu mengubah cara kamu berpikir, cara kamu peduli, dan cara kamu memilih untuk hadir bukan hanya secara fisik, tapi secara penuh di tengah realitas pelajar yang sesungguhnya.

Oleh: Ricky Pratama | Ketua Bidang Organisasi PD IPM Lampung Utara