Perbuatan tercela yang sering dianggap remeh

Menurut saya, gibah masih sering terjadi di lingkungan sekolah, termasuk di kalangan pelajar di Lampung Utara. Banyak siswa yang menganggap gibah hanya sebagai candaan atau bahan hiburan ketika berkumpul dengan teman. Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, kebiasaan ini dapat menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap hubungan pertemanan di sekolah.

Gibah adalah membicarakan keburukan atau kekurangan seseorang ketika orang tersebut tidak ada di hadapan kita. Dalam ajaran Islam, perbuatan ini sangat tidak dianjurkan karena dapat menyakiti hati orang lain dan merusak hubungan antar sesama. Bahkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surat Al-Hujurat ayat 12, gibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah meninggal. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa gibah adalah perbuatan yang sangat buruk dan seharusnya dihindari oleh setiap orang, terutama pelajar yang masih dalam proses belajar membentuk karakter yang baik.

Di lingkungan sekolah, gibah sering terjadi ketika siswa berkumpul dan mulai membicarakan teman lain yang tidak hadir. Terkadang yang dibicarakan adalah cara berbicara, kebiasaan di kelas, atau hal-hal kecil lainnya. Meskipun terlihat sepele, hal tersebut bisa membuat seseorang merasa sedih, kecewa, bahkan kehilangan kepercayaan kepada teman-temannya.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang pelajar di Lampung Utara yang mengalami kejadian tidak menyenangkan karena gibah. Ia mengetahui bahwa beberapa temannya membicarakan dirinya di belakang tentang cara berbicaranya dan kebiasaannya di kelas. Awalnya ia merasa sangat sedih dan kecewa karena orang yang ia anggap teman justru membicarakannya tanpa sepengetahuannya. Namun, setelah beberapa waktu, ia mencoba bersikap sabar dan tidak membalasnya dengan kemarahan. Ia justru berusaha memperbaiki hubungan dengan teman-temannya dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Menurut saya, gibah dapat membawa banyak dampak negatif. Pertama, gibah dapat menimbulkan permusuhan dan pertengkaran antar teman. Kedua, kebiasaan ini dapat merusak kepercayaan dalam pertemanan. Ketiga, gibah dapat menyakiti hati orang lain tanpa kita sadari. Jika dibiarkan terus menerus, gibah juga bisa menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihentikan.

Oleh karena itu, pelajar perlu belajar untuk menghindari kebiasaan gibah. Salah satu caranya adalah dengan menjaga lisan dan berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Selain itu, ketika ada teman yang mulai membicarakan keburukan orang lain, kita bisa mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih baik. Kita juga perlu menyadari bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan, sehingga tidak pantas jika kita membicarakan kekurangan orang lain.

Menurut pendapat saya, jika para pelajar mulai membiasakan berbicara tentang hal-hal yang baik dan bermanfaat, maka lingkungan pertemanan di sekolah akan menjadi lebih nyaman dan saling menghargai. Dengan begitu, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk sikap dan akhlak yang baik.

Sebagai kesimpulan, gibah adalah perbuatan yang seharusnya dihindari karena dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan menjaga ucapan, saling menghormati, dan memahami perasaan orang lain, kita dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih damai, positif, dan penuh rasa saling menghargai.

Baca juga :