Namanya Arlan. Kami bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah seminar daring. Di kolom chat Zoom yang riuh, kami menyadari satu hal yang mengejutkan,kami tinggal di kota yang sama. Sebuah kebetulan yang manis, yang kemudian membawa kami pada percakapan intens di WhatsApp selama tiga bulan.
Arlan adalah pelabuhan tempatku bersandar. Kami melakukan deep talk tentang banyak hal, mulai dari mimpi hingga keresahan menjadi dewasa. Meski rumah kami mungkin hanya terpaut beberapa kilometer, aku sengaja memilih untuk tidak bertemu fisik. Bagiku, koneksi pikiran ini sudah cukup, setidaknya untuk saat itu. Kami beberapa kali berpapasan di jalan tanpa sengaja, hanya saling melihat sekilas tanpa benar-benar berhenti.
Hingga suatu hari, dia meminta akun Instagram-ku. Aku pikir, ini adalah jembatan untuk lebih saling mengenal. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Setelah mutualan, Arlan berubah. Kehangatan itu membeku. Balasannya menjadi kaku dan berjarak, hingga akhirnya komunikasi kami benar-benar terputus.
Sebagai perempuan yang menghargai kejujuran, aku bertanya langsung. “Lan, kenapa sekarang jadi beda? Apa ada yang salah?”
Balasannya datang, menghantam layar ponselku dengan kejujuran yang pahit. Hanya empat kata.
“Aku insecure sama kamu.”
Ia melanjutkan, “Setelah lihat IG kamu, aku sadar kamu bukan cewek biasa. Branding kamu bagus, prestasimu banyak, relasimu luas. Sedangkan aku? IG-ku saja private, isinya kosong. Aku merasa nggak seimbang.”
Aku terdiam menatap layar. Ada rasa kecewa yang mendalam, bukan karena ditolak, tapi karena sikapnya yang menyerah sebelum berperang.
“Lan,” gumamku, “aku mau terima kamu apa adanya. Aku nggak butuh kamu setara dalam gelar atau pencapaian saat ini juga. Aku cuma butuh kamu setara dalam cara berpikir.”
Bagiku, jika seorang laki-laki merasa tidak setara, pilihannya bukan mundur, tapi mengusahakan. Aku jauh lebih menghargai laki-laki yang mau belajar, yang termotivasi untuk tumbuh bersama dan mengimbangi langkahku, daripada laki-laki yang memilih pergi hanya karena takut kalah cahaya. Kesempatan untuk belajar dari satu sama lain adalah hal paling berharga dalam sebuah hubungan, dan dia justru menyia-nyiakannya.
Ternyata, standar laki-laki saat ini masih menjadi teka-teki. Ada yang bilang ingin perempuan hebat, tapi saat benar-benar dipertemukan, mereka justru kabur karena egonya terancam.
Aku tidak akan meredupkan cahayaku hanya agar orang lain tidak merasa silau. Aku akan tetap berprestasi, karena aku percaya laki-laki yang tepat tidak akan merasa kecil di sampingku,dia justru akan bangga dan mengajakku berlari lebih jauh lagi.
[CALL TO ACTION UNTUK INSTAGRAM]
Nah, teman-teman, itulah sedikit struggle aneh yang baru saja aku alami. Jujur, aku heran, kenapa ‘insecure’ lebih sering dipilih sebagai jalan keluar daripada ‘berusaha mengimbangi’?
kalian bisa sharing cerita kalian juga melalui dm ke akun Instagram aku ya @Meyyyyyyyyyyyyyys


