Luka yang Tidak Terlihat: Refleksi atas Realita Bullying di Kalangan Pelajar Lampung Utara

Bullying bukan sekadar konflik biasa antar anak-anak. Bukan sekadar “kenakalan” yang wajar terjadi di masa sekolah. Dan tentu saja, bukan hal yang bisa dibiarkan berlalu begitu saja dengan alasan “anak-anak memang begitu.” Dua kisah nyata yang berhasil aku kumpulkan dari lingkungan pelajar Lampung Utara menjadi cermin pahit betapa dalamnya luka yang bisa ditinggalkan oleh bullying luka yang tidak selalu terlihat di permukaan, tapi terus menggerogoti dari dalam, diam-diam, bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya.

Kisah pertama datang dari seorang siswa yang pindah ke Lampung pada 2019, ketika ia masih duduk di kelas 5 SD. Sebelumnya, ia pernah merasakan pahitnya dibully di Jawa. Maka ketika memutuskan pindah, ia membawa satu harapan kecil yang sangat manusiawi semoga di tempat baru ini, luka lama tidak terulang kembali. Tapi kenyataan tidak semudah harapan.

Justru prestasinya yang menjadi bahan benci. Kemampuan matematikanya yang menonjol, keberaniannya menjawab soal-soal yang bahkan anak kelas 6 pun kesulitan, hingga medali dan piala OSN yang ia raih dengan kerja keras, doa orang tua, dan waktu yang ia korbankan untuk belajar semua itu bukan disambut dengan kagum, melainkan dengan dengki. Ia dituduh caper, sok jago, sok pintar, dan dianggap sekadar hoki. Rantai sepedanya dicopot. Spanduk penghargaannya yang terpasang di depan sekolah dikotori dengan lumpur, lalu dirobek-robek.

Ia yang baru tiga hingga empat bulan menginjakkan kaki di Lampung itu, belum sempat punya satu pun teman yang benar-benar akrab. Maka ketika dijauhi, ia tidak punya siapa-siapa untuk bersandar. Yang ia punya hanya luka, dan luka itu ia bawa pulang ke dalam dirinya sendiri.

Dampaknya tidak selesai ketika SD-nya berakhir. Ia tumbuh dengan trust issue yang dalam. Menjadi introvert bukan karena pilihan, melainkan karena trauma yang mengajarkan bahwa mendekat pada orang lain hanya berujung disakiti. Dari SMP hingga hampir akhir masa SMA-nya, ia tidak pernah sekalipun bergabung dengan organisasi bukan karena tidak mau berkembang, tapi karena luka lama selalu berbisik bahwa ia akan dijauhi lagi.

Tapi kemudian, di kelas 12 tahun terakhir sebelum ia meninggalkan bangku SMA ia memberanikan diri. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia memutuskan untuk bergabung dengan sebuah organisasi. Satu langkah kecil yang bagi orang lain mungkin terasa biasa, tapi bagi dia adalah keberanian yang luar biasa. Karena itu berarti ia memilih untuk tidak lagi membiarkan masa lalunya mengunci masa depannya. Ia sendiri yang kemudian berpesan: jangan pernah menutup diri dari orang-orang yang masih baik kepada kita, karena menutup diri dari lingkungan sama artinya dengan menutup diri dari pertumbuhan.

Kalimat itu sederhana. Tapi beratnya luar biasa, karena lahir dari seseorang yang bertahun-tahun terjebak dalam keduanya sekaligus.

Kisah kedua jauh lebih berat untuk dibaca, dan jauh lebih berat lagi untuk dibayangkan dialami oleh seseorang yang masih sangat muda. Semuanya bermula dari seorang anak pindahan di kelas 4 SD, yang terseret dalam perselisihan yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya konflik antar orang tua yang kemudian tumpah ke hubungan anak-anaknya. Ejekan yang ia lontarkan, kecil dan sewajarnya seperti anak-anak pada umumnya, dibalas dengan cara yang jauh tidak sepadan: nama baiknya dihancurkan ke teman-teman satu kelas, ke luar kelas, bahkan ke lingkungan tempat tinggal yang jaraknya jauh dari rumahnya sendiri.

Puncaknya datang di hari bersih-bersih kelas. Rebutan sapu yang berakhir dengan gagang sapu menghantam dadanya keras-keras. Ia sesak napas, menangis, dan tidak ada satu pun teman sekelasnya yang menolong hanya anak-anak dari kelas lain, murid les ibunya, yang akhirnya membantunya. Dan efek dari benturan itu ternyata tidak pergi begitu saja. Hingga hari ini, ia masih sering tiba-tiba sesak napas saat kelelahan, meski tidak pernah didiagnosis memiliki asma.

Luka fisik itu menjadi penanda dari luka yang jauh lebih dalam.

Ketika ia masuk SMP dan mondok di sebuah pesantren, satu ejekan soal fisik dari seseorang yang bahkan bukan ditujukan kepadanya pada mulanya meruntuhkan segalanya. Daripada kamu gimbal, kayak gajah. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari gagang sapu mana pun. Ia jatuh sakit, terkena gejala tipes. Ia rela melakukan smoothing demi mengubah dirinya, demi membuktikan bahwa ia layak diterima. Dan di balik tembok pesantren itu, jauh dari penglihatan ibunya, ia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri tiga kali.

Tiga kali.

Bekas luka di pergelangan tangannya masih ada sampai sekarang. Obat yang ia telan melebihi dosis masih ia ingat. Setiap kali hampir berhasil, ada sesuatu atau seseorang yang menahannya. Ia meyakini itu adalah cara Allah untuk membuatnya tetap bertahan di dunia ini, dan keyakinan itu yang akhirnya menjadi jangkarnya.

Ketika ia pindah kembali ke sekolah lama di jenjang MTS, masalah dengan satu orang berubah menjadi satu kelas penuh yang memusuhinya 32 anak yang menghindarinya, teman sebangku yang memilih pindah tempat duduk agar tidak duduk di sebelahnya. Selama satu semester, ia hampir tidak pernah masuk kelas. Seminggu, ia hanya hadir empat hari sisanya izin, bukan karena malas, melainkan karena sekolah terasa seperti tempat yang paling tidak aman di dunia. Dan di masa itu, ia kembali mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri. Selalu ada yang mengetahuinya sebelum terlambat.

Kini di SMA, ia berdiri lebih tegak. Ia membangun dirinya kembali, pelan-pelan, dengan prinsip yang ia pegang erat: “Selagi ga ngasih saya makan, saya ga akan takut buat ngelawan orang itu.” Baginya, yang benar-benar ditakutinya hanya Allah, kehilangan orang tua, dan kematian orang-orang yang ia cintai bukan kata-kata orang yang tidak punya tempat penting dalam hidupnya.

Tapi trauma itu belum benar-benar pergi. Mimpi-mimpi tentang kejadian lama masih datang. Keinginan untuk menemui psikolog masih ada, tapi terhalang oleh biaya. Ia tampak baik-baik saja dari luar. Di dalam, ia masih berjuang dan ia berjuang sendirian.

Dua kisah ini bukan anomali. Bukan kejadian langka yang hanya menimpa segelintir orang. Dalam wawancara yang aku lakukan dengan pelajar dari berbagai sekolah dan jenjang di Lampung Utara, pola yang sama terus muncul berulang kali.

Para pelajar ini dengan sadar mampu mengidentifikasi bahwa bullying tidak melulu soal kekerasan fisik. Ada bullying verbal, pengucilan sosial, ejekan fisik, bahkan serangan lewat media sosial. Mereka tahu bahwa pelaku sering berlindung di balik kata “bercanda” padahal yang merasakannya sama sekali tidak merasa itu lucu. Seperti yang diungkapkan salah seorang narasumber: “Kadang pelakunya nganggep itu cuma bercanda, padahal yang kena bisa kepikiran terus dan ngerasa engga nyaman di sekolah.”

Soal akar masalahnya, banyak yang menunjuk pada satu hal yang sama: minimnya empati. Ketidakmampuan untuk membayangkan diri berada di posisi orang lain menjadikan seseorang begitu mudah menyakiti tanpa merasa bersalah. Ini bukan semata-mata soal karakter buruk satu individu ini juga soal lingkungan yang gagal mendidik anak-anak untuk peduli satu sama lain.

Dampaknya sudah tergambar jelas dari kedua kisah di atas: rasa minder, hilangnya kepercayaan diri, ketakutan untuk bersosialisasi, perubahan kepribadian yang drastis, trauma fisik yang bertahan lama, bahkan dalam kasus yang paling ekstrem keinginan untuk mengakhiri hidup sendiri. “Korban bisa jadi berubah dari yang tadinya ceria jadi pendiem atau menjauh dari lingkungan,” kata salah satu narasumber, dan kedua kisah ini membuktikannya secara nyata.

Lalu di mana peran institusi dalam semua ini? Di mana sekolah, guru, sistem yang seharusnya melindungi?

Jawabannya, jujur, tidak selalu menggembirakan. Banyak sekolah yang belum benar-benar serius menangani bullying. Kejadian dianggap sepele, dianggap dinamika biasa, tidak ditindak dengan tegas. Korban pun sering takut melapor karena khawatir tidak dipercaya, atau justru dihakimi balik. Sistem yang seharusnya menjadi pelindung, dalam banyak kasus, justru absen di saat paling dibutuhkan. Salah satu narasumber mengamini hal ini: “Belum semua sekolah serius nangani bullying. Kadang masih dianggap bercanda atau hal biasa, jadi nggak ditindak tegas.”

Namun bukan berarti tidak ada harapan. Ada sekolah-sekolah yang mulai membangun aturan tegas dan ruang aman bagi korban untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Artinya perubahan itu mungkin hanya perlu lebih banyak pihak yang mau bergerak ke arah yang sama, dengan lebih serius dan lebih cepat.

Dari semua yang terkumpul, satu pesan terus berulang: perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Belajar berempati. Berhenti menganggap ejekan sebagai sesuatu yang normal dan tidak berbahaya. Berani berdiri di sisi yang benar ketika menyaksikan seseorang dizalimi bukan diam, bukan menonton, bukan ikut-ikutan. Seperti yang dikatakan salah satu narasumber dengan sangat tepat: “Jangan pernah anggap bullying itu bercanda. Berani bela yang benar, saling dukung satu sama lain, dan jadikan sekolah tempat yang aman buat semua.”

Kedua orang yang kisahnya ada di sini sudah membuktikan bahwa bertahan itu mungkin. Bahwa jalan menuju titik yang lebih terang itu ada walau panjang, walau berliku, walau bekasnya tidak pernah benar-benar hilang. Salah satunya bahkan baru di kelas 12 menemukan keberanian untuk bergabung dalam sebuah organisasi, sesuatu yang bagi kebanyakan orang terasa begitu sepele. Tapi bagi dia, itu adalah bukti bahwa ia tidak menyerah bahwa enam tahun luka tidak berhasil memadamkan keinginannya untuk tumbuh.

Bullying bukan hanya masalah antara pelaku dan korban. Ia adalah cerminan dari bagaimana kita sebagai komunitas, sebagai lingkungan pendidikan, sebagai sesama manusia memilih untuk saling memperlakukan satu sama lain.

Dan kita selalu punya pilihan untuk melakukannya dengan jauh lebih baik.

 

Oleh: Ricky Pratama | Ketua Bidang Organisasi PD IPM Lampung Utara