Dari Rate IG ke Ruang Hati

Dunia digital memang punya cara anehnya sendiri dalam mempertemukan dua jiwa yang bahkan tak pernah membayangkan akan saling kenal.

Waktu itu, TikTok sedang ramai dengan tren “rate IG” hal sepele yang entah kenapa bisa membuat siapapun iseng membuka live orang asing dan mengetik di komentar untuk menilai tentang feed mereka. Aku pun begitu. Tanpa pikir panjang, aku ikut-ikutan, meminta seseorang untuk menilai tampilan Instagram-ku. Dan di situlah semua bermula. Namanya Salsa

Awalnya aku hanya tahu namanya dari profil. Lalu kami saling follow hal yang terasa biasa, lumrah, seperti ribuan koneksi digital lain yang datang dan pergi tanpa bekas. Tapi rupanya semesta punya rencana yang lebih dari sekadar angka followers.

Suatu hari, sebuah notifikasi masuk. DM. Ia membalas Story-ku pesan singkat, sederhana, tidak istimewa secara kata-kata. Tapi ada sesuatu yang aneh. Aku membalasnya. Ia membalas lagi. Dan percakapan itu… tidak berhenti.

Hari berganti hari, pesan berganti cerita. Dari yang awalnya hanya basa-basi digital, pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang aku sendiri susah mendefinisikannya. Nyaman. Itulah kata yang paling jujur. Ada rasa nyaman yang diam-diam tinggal, seperti tamu yang masuk lewat pintu belakang tanpa sempat kita sadari dan ketika kita sadar, ia sudah duduk terlalu dalam untuk diusir.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku paham bahwa Salsa bukan perempuan biasa.

Ia aktif. Bukan sekadar aktif dalam artian sibuk, tapi aktif dalam makna yang sesungguhnya hidupnya bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi duta, dipercaya, diandalkan. Di organisasi, namanya disebut dengan nada yang bercampur antara kagum dan syukur. Ia cantik, tapi kecantikannya bukan yang hanya enak dipandang melainkan yang terasa, yang hangat, yang memancar dari caranya peduli pada orang lain.

Dan aku? Aku hanya seseorang yang awalnya minta di-rate Instagram-nya.

Maka ketika suatu hari ia mengirim pesan pengakuan itu pesan yang jujur, berani, dan mungkin sudah ia simpan lama sebelum akhirnya dikirim aku terdiam cukup lama menatap layar.

Ia menyukaiku.

Perempuan sehebat itu, menyukai aku yang bahkan pertama kali ia kenal dari tren TikTok yang cukup konyol.

Tapi begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tidak datang lewat pintu yang megah. Ia datang lewat celah-celah kecil yang tidak kita jaga lewat DM yang iseng, lewat reply story yang seharusnya biasa, lewat percakapan tengah malam yang awalnya tidak ada dalam rencana siapapun. Dan aku pun jatuh. Pelan, tapi pasti. Menyukainya. Mencintainya. Merasa nyaman dan sayang dengan cara yang terasa baru namun sekaligus familiar, seperti lagu yang belum pernah kau dengar tapi entah kenapa terasa seperti sudah lama kau hafal.

Aku berkomitmen dalam diam dan dalam kata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Mendukungnya. Bahkan di saat dunia sekalipun tidak berpihak kepadanya, aku ingin menjadi satu suara yang tidak ikut pergi.

Jarak memang memisahkan kami secara fisik. Tapi anehnya, jarak itu tidak pernah terasa sebesar yang seharusnya. Karena ada hal-hal yang tidak butuh kedekatan fisik untuk nyata kepercayaan, perhatian, kehadiran lewat kata-kata yang dikirim di waktu yang tepat. Dan suatu hari nanti, jika semesta memberikan kesempatan itu kesempatan untuk berdiri di hadapannya secara nyata aku tahu yang pertama akan aku lakukan. Aku akan memeluknya erat. Sekeras rindu yang sudah lama kutahan. Sampai rasa kangen itu sedikit lega, sedikit reda, sedikit tersampaikan lewat bahasa yang tidak butuh kata.

Tapi tentu saja, cinta yang nyata tidak hidup di atas awan terus-menerus.

Salsa aku harus jujur kamuu itu kadang bawel. Dan ia tidak suka dibentak. Hal yang seringkali membuatku tertuduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak aku sadari. “Kamu bentak aku,” katanya. Dan aku bingung, karena di kepalaku aku hanya berbicara dengan nada yang kupikir biasa.

Lucu, sebenarnya. Dua orang yang belum pernah memulai hubungan secara resmi, sudah punya dinamikanya sendiri sudah punya pertengkaran kecilnya sendiri, sudah punya momen salah paham yang harus diselesaikan dengan sabar.

Tapi justru di situlah aku sadar ini nyata.

Karena hal-hal yang tidak nyata tidak akan pernah repot-repot menciptakan kesalahpahaman. Hal-hal yang tidak nyata tidak akan membuatmu mau duduk, mau mendengar, mau mencoba memahami sudut pandang orang lain meski kamu merasa tidak salah.

Saat ini, kami berdua sedang dalam masa adaptasi. Belajar menerima satu sama lain dengan segala kekurangan yang kadang menjengkelkan, dan segala kelebihan yang membuat semuanya terasa worth it. Belajar bahwa cinta yang tumbuh dari pertemuan tak sengaja pun tetap butuh usaha yang disengaja untuk dijaga.

Dari sebuah tren TikTok yang konyol, dari satu permintaan rate IG yang iseng lahirlah sebuah cerita. Cerita tentang dua orang yang dipertemukan oleh algoritma, tapi dipersatukan oleh sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Dan cerita ini, aku yakini, tidak akan pernah lekang oleh masa.

Untuk Salsa — perempuan yang mengajarkanku bahwa pertemuan paling berarti kadang lahir dari hal yang paling tidak terduga. Terima kasih sudah hadir, dengan segala bawelmu, dengan segala kehangatan dan keberanianmu. Aku di sini, dan aku tidak kemana-mana.