Dinamika kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW menjadi fokus kajian yang disampaikan Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi, dalam sebuah pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (19/1).
Ghifari menggambarkan suasana duka mendalam yang menyelimuti umat Islam pasca wafatnya Rasulullah pada tahun 11 Hijriah. Kehilangan sosok Nabi Muhammad SAW bukan hanya mengguncang kehidupan sosial umat, tetapi juga berdampak besar bagi keluarga terdekat beliau. Salah satunya Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah, yang disebut mengalami penurunan kesehatan akibat kesedihan mendalam.
Enam bulan setelah kepergian ayahandanya, Fatimah Az-Zahra wafat. Ghifari mengingatkan sabda Rasulullah bahwa siapa pun yang menyakiti Fatimah sama halnya dengan menyakiti beliau. “Kedekatan Rasulullah dengan Fatimah menunjukkan betapa besar posisi putrinya dalam kehidupan Nabi,” ujarnya.
Situasi Madinah kala itu berada dalam kondisi yang sangat genting. Umat Islam kehilangan figur sentral yang selama ini menjadi rujukan utama dalam urusan agama, sosial, dan politik. Kebingungan pun melanda masyarakat Madinah yang sebelumnya tumbuh sebagai pusat peradaban Islam.
Ghifari menuturkan bahwa reaksi emosional muncul di kalangan sahabat, salah satunya Umar bin Khattab yang sempat tidak menerima kenyataan wafatnya Rasulullah. Di tengah situasi tersebut, Abu Bakar As-Siddiq tampil menenangkan umat dengan membacakan Surah Ali Imran ayat 144, yang menegaskan bahwa Rasulullah adalah seorang utusan Allah, dan wafatnya beliau tidak boleh menggoyahkan keimanan umat.
“Pada saat itu, kedewasaan dan ketenangan Abu Bakar menjadi penopang psikologis bagi umat Islam,” kata Ghifari.
Ia menjelaskan bahwa Abu Bakar memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Rasulullah sejak lama. Kedekatan itu terlihat dalam berbagai peristiwa penting, seperti hijrah ke Madinah dan persembunyian di Gua Tsur. Selain itu, Abu Bakar juga beberapa kali dipercaya Rasulullah untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat saat Nabi sakit.
Proses penentuan pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah berlangsung dinamis dan penuh perdebatan. Ghifari mengulas peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah yang melibatkan kelompok Muhajirin dan Ansar, serta munculnya beberapa nama sebagai calon pemimpin umat, di antaranya Abu Bakar As-Siddiq, Ali bin Abi Thalib, dan Sa’ad bin Ubadah.
Dalam situasi yang berpotensi memecah persatuan, Abu Bakar menunjukkan kebijaksanaan dengan mengedepankan kemaslahatan umat. Umar bin Khattab kemudian membaiat Abu Bakar, disusul para sahabat lainnya. Meski demikian, penerimaan kepemimpinan Abu Bakar tidak terjadi secara instan. Ali bin Abi Thalib baru memberikan baiat beberapa bulan kemudian.
“Sejak awal, tantangan terbesar umat adalah menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan,” jelas Ghifari.
Gelar As-Siddiq yang melekat pada Abu Bakar, lanjutnya, merupakan cerminan keteguhan iman beliau, terutama ketika membenarkan peristiwa Isra Mikraj yang kala itu diragukan oleh banyak orang.
Selama masa kekhalifahan yang relatif singkat, sekitar dua tahun, Abu Bakar dihadapkan pada berbagai krisis serius. Mulai dari munculnya nabi palsu, gelombang kemurtadan, penolakan membayar zakat, hingga pemberontakan sejumlah kabilah. Dengan ketegasan dan konsistensi dalam menjaga ajaran Islam, Abu Bakar mampu menstabilkan kondisi umat.
Di bidang militer dan ekspansi wilayah, Abu Bakar melanjutkan strategi yang telah dirancang Rasulullah dengan mengirim pasukan ke wilayah Syam dan Irak. Khalid bin Walid memimpin pasukan ke Irak, sementara Amr bin Ash dan panglima lainnya bergerak ke Syam. Langkah-langkah strategis ini menjadi fondasi bagi perluasan wilayah Islam pada masa berikutnya.
Kontribusi penting lainnya adalah inisiatif pengumpulan Al-Qur’an. Atas pertimbangan banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang, Abu Bakar atas saran Umar bin Khattab menugaskan Zaid bin Tsabit untuk menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf demi menjaga keasliannya.
Selain itu, Abu Bakar juga merintis pendirian Baitul Mal sebagai lembaga keuangan negara yang berfungsi menyalurkan bantuan dan santunan kepada masyarakat. Kebijakan ini menjadi dasar sistem kesejahteraan dalam pemerintahan Islam.
Ghifari menegaskan bahwa kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq mengandung nilai-nilai keteladanan yang relevan hingga kini, seperti keteguhan iman, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat diterapkan dalam konteks Indonesia melalui kebijakan publik yang inklusif dan membawa manfaat luas bagi masyarakat.
“Islam adalah agama yang mengedepankan maslahat. Nilai-nilainya dapat dihadirkan secara bertahap di ruang publik dengan pendekatan yang dapat diterima semua kalangan,” ujarnya.
Menutup kajiannya, Ghifari mengajak umat Islam untuk meneladani kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq sebagai inspirasi dalam menjaga persatuan dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. (ilham/rike)
Sumber:
https://muhammadiyah.or.id/2026/01/kepemimpinan-abu-bakar-as-siddiq-dan-tantangan-umat-pasca-wafat-rasulullah/


