“Tantangan Pelajar di Era Society 5.0: Menguatkan Kesadaran, Gerak, dan Identitas Ke-IPM-an”

Di banyak sekolah, pagi selalu dimulai dengan langkah-langkah tergesa pelajar yang menuju kelas. Sebagian sibuk dengan buku, sebagian lagi menunduk pada layar ponsel mereka. Dalam satu genggaman, dunia terbuka lebar: informasi, hiburan, percakapan, hingga distraksi tanpa batas. Begitulah wajah keseharian generasi yang hidup di tengah perubahan besar generasi yang menjadi saksi lahirnya Society 5.0.

Namun sebelum melangkah jauh pada tantangan yang mereka hadapi, kita perlu memahami dulu apa yang disebut sebagai era Society 5.0. Konsep ini pertama kali diperkenalkan Pemerintah Jepang dalam The 5th Science and Technology Basic Plan. Sebuah visi besar tentang masyarakat masa depan yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi menjadikan teknologi itu sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan manusia secara lebih manusiawi. Di era ini, kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), big data, dan robotika bekerja bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memudahkan manusia mengambil keputusan, mengakses pengetahuan, dan meningkatkan kualitas hidup.

Society 5.0 bukan sekadar kelanjutan dari era digital; ia adalah era yang menuntut pelajar untuk tidak hanya terampil mengoperasikan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kecakapan berpikir kritis, kemampuan memilih informasi, dan ketahanan karakter. Tanpa pemahaman dasar tentang konsep ini, pelajar cenderung berjalan tanpa arah, mengikuti arus tanpa memahami arus itu sendiri.

Dengan pemahaman inilah, kita mulai melihat tantangan pelajar hari ini termasuk pelajar di lingkungan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Lampung Utara dengan lebih jernih.

Di banyak sekolah Muhammadiyah di Lampung Utara, kegiatan pembelajaran sering berjalan berdampingan dengan riuh rendah aktivitas organisasi. Ada siswa yang menyiapkan kegiatan, ada yang berdiskusi mengenai program, dan ada pula yang baru mengenal apa itu IPM. Dari sinilah muncul salah satu tantangan terbesar: kesadaran berorganisasi yang belum merata.

Bukan sekadar soal ada ranting yang aktif atau tidak, tetapi lebih pada bagaimana pelajar memaknai keberadaan IPM di sekolah mereka. Banyak pelajar melihat organisasi hanya sebagai kegiatan tambahan pelengkap kalender sekolah. Padahal di tengah derasnya arus Society 5.0, organisasi justru menjadi ruang latihan paling nyata bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan memimpin, bekerja sama, mengelola emosi, hingga menangani masalah dalam tekanan waktu.

Bayangkan seorang pelajar yang tiba-tiba diminta memimpin rapat, atau diminta mencari solusi ketika kegiatan terganggu cuaca. Tantangan semacam itu tidak diajarkan di buku teori, tetapi diasah melalui proses berorganisasi.

Dan di sinilah IPM seharusnya hadir sebagai ruang pendewasaan.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah pemahaman arah gerak organisasi. Di beberapa tempat, pelajar datang ke kegiatan IPM tanpa benar-benar memahami ke mana organisasi ingin melangkah. Mereka hadir, namun belum tentu merasa terlibat secara utuh. Ada yang masih bertanya-tanya apa tujuan IPM, mengapa kegiatan tertentu dilakukan, atau apa peran mereka dalam struktur yang lebih besar.

Ini bukan kesalahan siapa pun, melainkan tanda bahwa organisasi masih perlu memperkuat komunikasi, memperdalam pembinaan, dan memastikan bahwa nilai serta visi IPM dapat dirasakan, bukan hanya didengar. Ketika pelajar memahami arah gerak, mereka tidak lagi hadir karena diminta mereka hadir karena merasa memiliki.

Pada lapis tantangan berikutnya, terdapat realitas bahwa tidak semua siswa sekolah Muhammadiyah memahami pentingnya IPM. Banyak yang melihat IPM hanya sebagai “ekstrakurikuler lain” yang tidak berkaitan dengan perjalanan pribadi mereka. Padahal IPM adalah bagian dari sistem pembinaan karakter yang telah lama dirancang oleh Muhammadiyah. Di dalamnya terdapat ruang-ruang untuk belajar berbicara di depan umum, mengatur waktu, mengelola konflik, dan memahami nilai-nilai kemanusiaan serta keislaman secara lebih aplikatif.

Jika IPM berjalan baik, maka organisasi ini dapat menjadi rumah tumbuh bagi para pelajar. Rumah yang tidak hanya memoles kemampuan teknis, tetapi juga membangun keberanian, kejujuran, empati, serta tanggung jawab sosial kompetensi yang justru semakin berharga di tengah derasnya arus modernisasi.

Namun semua tantangan tersebut bukanlah tembok besar yang menghalangi langkah pelajar. Ia lebih tepat disebut sebagai undangan untuk memperkuat gerak. Society 5.0 menuntut pelajar untuk mampu membaca realitas, bukan hanya realitas digital, tetapi juga realitas internal organisasi mereka. IPM Lampung Utara memiliki potensi besar, karena berada di lingkungan yang kaya perbedaan kondisi antar sekolah, jarak yang luas, serta dinamika kader yang beragam. Perbedaan itu bukan kelemahan ia adalah ruang belajar.

Pelajar yang mampu melihat peluang di tengah keterbatasan adalah pelajar yang siap menghadapi era baru.

Pada akhirnya, opini ini merangkum satu pemahaman penting:

Pelajar membutuhkan organisasi, dan organisasi membutuhkan kesadaran pelajar.

Keduanya tidak bisa berjalan sendiri. Kesadaran tidak bisa dipaksakan, tetapi tumbuh dari pengalaman berharga, dialog yang hangat, dan keteladanan yang berkelanjutan. Keaktifan ranting tidak hanya diukur dari seberapa sering kegiatan dilakukan, melainkan dari bagaimana organisasi memberi ruang bagi pelajar untuk tumbuh, merasa dihargai, dan menemukan arah.

Di tengah percepatan teknologi ini, pelajar perlu kembali menata cara pandang. Teknologi memang penting, tetapi karakter adalah fondasi. Organisasi memang bergerak, tetapi manusialah yang memberi ruh pada pergerakan itu.

Society 5.0 membutuhkan pelajar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat; tidak hanya pandai membaca data, tetapi juga mampu membaca nurani; tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami nilai.

IPM Lampung Utara memiliki peluang besar untuk menjadi ruang itu ruang di mana pelajar belajar menemukan arah, membangun kepercayaan diri, dan memperkuat identitas Ke-IPM-an mereka sebagai generasi pembelajar yang siap menghadapi masa depan yang terus berubah.