Organisasi Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912, akan merayakan Milad ke-113 pada Selasa, 18 November 2025. Acara puncak peringatan akan digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), beralamat di Jalan Soekarno-Hatta No. 752, Kota Bandung.
Pemilihan UM Bandung sebagai lokasi peringatan bukan tanpa alasan. Kampus yang berdiri megah di jalur utama Kota Bandung ini dinilai sangat strategis, karena mudah dijangkau dari berbagai arah, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan kampus yang tertata, UM Bandung dianggap representatif sebagai tuan rumah peringatan salah satu momentum penting dalam sejarah gerakan Islam modern di Indonesia tersebut.
Tahun ini, peringatan milad mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, sebagaimana tertuang dalam Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 4/EDR/1.0/B/2025. Tema ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk terus berkontribusi aktif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pernyataannya menjelaskan bahwa tema tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sosial bangsa yang masih menghadapi ketimpangan kesejahteraan. Menurutnya, kesejahteraan yang diupayakan Muhammadiyah tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup kesejahteraan spiritual, moral, dan batin.
“Kesejahteraan bangsa harus diartikan secara utuh. Muhammadiyah ingin menjadi bagian dari solusi untuk menumbuhkan masyarakat yang sehat, berdaya, dan berakhlak. Itulah makna kesejahteraan yang sesungguhnya,” ujar Haedar.
Sebagai bagian dari semarak milad, Suara Muhammadiyah media resmi persyarikatan yang telah berdiri sejak 1915 meluncurkan Batik Nasional Milad ke-113 Muhammadiyah. Batik tersebut dirancang khusus untuk menjadi simbol kebanggaan sekaligus pengikat identitas warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Haedar Nashir memberikan apresiasi tinggi terhadap peluncuran batik tersebut. Ia menilai bahwa batik milad memiliki kualitas yang baik dan mencerminkan nilai-nilai keislaman, kemodernan, serta keindonesiaan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.
“Batik ini bukan sekadar pakaian seragam, melainkan simbol kebersamaan dan ekspresi budaya warga persyarikatan. Saya mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah untuk mengenakannya dalam rangkaian acara milad sebagai bentuk persatuan dan syiar yang positif,” tutur Haedar.
Suara Muhammadiyah sendiri menjelaskan bahwa desain batik tersebut mengandung filosofi mendalam tentang semangat dakwah, pencerahan, dan gerakan kemajuan. Motifnya memadukan elemen khas Muhammadiyah dengan nuansa modern yang elegan, mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai tradisi dan inovasi.
Sementara itu, persiapan pelaksanaan milad di UM Bandung telah dilakukan secara intensif. Sejak awal November, panitia telah mempercantik lingkungan kampus dengan berbagai ornamen bernuansa biru dan putih khas Muhammadiyah. Area lapangan utama, aula, serta gedung pertemuan disiapkan untuk menampung ribuan peserta yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.
Rektor UM Bandung menyampaikan bahwa pihaknya merasa terhormat dipercaya menjadi tuan rumah peringatan bersejarah ini. “Kami ingin menjadikan kampus ini sebagai ruang silaturahmi, inspirasi, dan semangat baru bagi kader dan simpatisan Muhammadiyah untuk terus berkarya bagi bangsa,” ujarnya.
Rangkaian acara milad ke-113 tidak hanya berfokus pada seremoni. Panitia menyiapkan sejumlah kegiatan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat. Di antaranya bazaar UMKM yang menampilkan produk-produk unggulan warga Muhammadiyah, pameran inovasi pendidikan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), serta pertunjukan seni dan budaya yang menggambarkan kekayaan tradisi nusantara dalam bingkai nilai Islam berkemajuan.
Tak hanya itu, beberapa kegiatan sosial seperti donor darah, layanan kesehatan gratis, dan diskusi publik juga direncanakan sebagai bagian dari rangkaian acara. Semua kegiatan ini diharapkan dapat memperlihatkan wajah nyata gerakan Muhammadiyah yang peduli, inklusif, dan terus berinovasi untuk kemaslahatan masyarakat.
Peringatan milad kali ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali peran Muhammadiyah di tengah perubahan zaman. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, Muhammadiyah terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memperluas jaringan pendidikan, dan memperkuat ekonomi umat melalui berbagai lembaga amal usaha.
“Kita ingin Milad ke-113 ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi menjadi momen refleksi untuk mempertegas komitmen kita terhadap bangsa. Semangat dakwah pencerahan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kemajuan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Haedar.
Dengan semangat kebersamaan yang mengakar dan tekad untuk terus berkontribusi, Muhammadiyah berharap Milad ke-113 ini menjadi pijakan baru untuk melangkah lebih jauh dalam mewujudkan cita-cita besar: membangun Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkeadaban. (mpijabar/vina)


