Nama ku Aldira Salcia aku biasa di panggil Cia, aku anak tunggal, ayah ku seorang dokter dan ibu ku seorang pramugari, aku di rumah hanya tinggal bersama bi ijah ia adalah asisten rumah tangga ku yang mengurus ku dari aku kecil sampai sekarang, ayah ku pulang ke rumah saat akhir pekan sedangkan ibu ku pulang ke rumah jika ada tanggal merah di kalender saja, betapa sibuk nya mereka, apapun yang aku minta memang terpenuhi dan lebih dari cukup tapi mereka tidak pernah sadar kalo aku disini kesepian.
pada hari ini tanggal 28 Januari 2025 tepat umur ku menginjak 17 tahun, tidak ada ucapan “selamat ulang tahun” dari ayah dan ibu ku, ternyata bukan hari ini saja mereka tak memberi ucapan bahkan memang dari sejak aku kecil, perayaan kecil pun tidak pernah ku rasakan, mana kehangatan di rumah yang penuh canda tawa itu?, mana obrolan yang tak pernah ada akhirnya itu?, sepi sekali, rasanya aku hanya seorang diri.
Aku tidak pernah membenci mereka aku juga tidak pernah menuntut mereka selalu ada, tapi aku juga ingin merasakan kebahagiaan yang seutuh nya seperti teman-teman ku yang memiliki seutuh nya keluarga, kalo ada kehidupan kedua aku lebih memilih hidup sederhana tapi mereka selalu ada, dari pada begini aku serba cukup bahkan lebih tetapi aku kesepian seperti tak ada keluarga.
Esok ada tanggal merah dan tepat pada akhir pekan ayah dan ibu ku pulang kerumah
Pada siang itu, aku, ayah dan ibuku berkumpul di meja makan untuk menyantap makan siang, aku sangat senang akhirnya setelah sekian lama kami bisa berkumpul lagi di meja makan ini, tetapi terasa sunyi tidak ada obrolan yang mereka bicarakan, dan pada akhirnya aku lah yang memulai pembicaraan itu
“ayah ibu, bagaimana kabar kalian?, Cia disini menunggu kabar dan kepulangan kalian”
“baik nak, bagaimana kabar Cia, maaf kan ibu ya anak, ibu jarang sekali berkomunikasi dengan Cia bahkan sekedar mengirim chat saja tak sempat”
jawab ibu sambil mengelus kepala ku
“alhamdulillah nak, ayah akan tetap baik-baik saja kalo
Kamu senang dan bahagia disini”
Ujar ayah ku
Aku hanya tersenyum dan hanya bisa menjawab nya di dalam hati
Senang? Bahagia? Kapan aku bahagia setelah 17 tahun lama nya aku tidak pernah merasakan di rayakan, ayah ibu mana tahu keadaan ku disini.
Setelah makan siang itu aku tak berbicara apapun dan langsung bergegas ke ruang keluarga untuk menghidupkan televisi, televisi dengan volume yang sangat keras itu lah yang selalu menutupi kesepian ku, ayah menghampiri remot televisi yang ada di samping ku dan mengambil remot itu untuk mengecil kan volume telivisi ku,
“besar sekali kamu menonton televisi sayang”
“tidak papa yah, agar tidak terasa sepi” jawab ku
“tidak terasa gadis kecil ayah sekarang sudah besar, bagaimana sayang keseharian mu di rumah dan dengan teman-teman mu?”
“biasa saja yah tidak ada yang beda sama seperti sebelum-sebelum nya”
Tidak lama ibu pun datang dengan baju yang rapih dengan parfum yang sangat wangi,
“Ibu keluar dulu ya, mau ada kumpul dengan teman-teman di luar”
Pamit ibu
Handphone ayah pun berbunyi, tiba-tiba ia bergegas ke kamar
dan beberapa menit kemudian ayah keluar dari kamar dengan pakaian yang rapih juga dan membawa koper, ia menghampiri ku dan mencium kening ku
“anak ayah, ayah keluar kota dulu ya, ada urusan mendadak, kamu dengan ibu dulu ya”
Pamit ayah
Aku hanya tersenyum, ya sudah terbiasa hal ini terjadi di hidupku, rasanya untuk sekolah saja aku tidak ada kata semangat, kehidupan ku hanya kantin dan kelas bahkan setiap teman-teman ku mengajak ku main saja, aku selalu menolak.
Sampai di suatu hari, kami mempunyai kerja kelompok yang berisikan 4 orang,
Dan kelompok itu di tentukan oleh guru, tugas nya membuat berita tentang makanan yang ada di Indonesia.
Aku sekelompok dengan jihan, reyhan dan rasya.
Jihan sangat senang karena ia dapat sekelompok dengan pacar nya yaitu reyhan.
Keesokan hari nya sepulang sekolah kami pergi kerja kelompok di rumah nya jihan, bersama reyhan dan rasya tentu nya, ya begitu lah kalo yang sedang jatuh cinta mereka tidak menghiraukan tugas yang di berikan, akhirnya tugas tersebut hanya aku dan rasya saja yang mengerjakan, makin sore cuaca makin gelap dan mendung.
“seperti nya ingin turun hujan” ujar Jihan
“sudah sore aku harus pulang, aku tidak bisa pulang terlalu malam” jawab ku
“Lalu bagaimana Cia, apa kamu di susul oleh papa mu atau supir mu?” sahut Reyhan
Cia menelepon supir nya tetapi tidak di angkat
“bagaimana kalo kamu aku antar saja ci, rumah kita juga searah kok” tawaran yang di berikan oleh rasya
Aku pun hanya diam kebingungan, aku harus jawab iya atau tidak.
sambil terus menerus menghubungi supir ku yang tak mengangkat telpon dari ku
“sudah kamu ikut saja sama Rasya ci, dari pada kemalaman, supir kamu juga tidak mengangkat telpon kan..” lanjut Jihan
“ayok lah ci, kenapa seperti tidak enakan begitu, aku juga teman mu lo..” jawab Rasya kembali
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama Rasya sore itu.
Di dalam mobil aku hanya terdiam dan tidak ada hal hal yang harus aku bicarakan
“Cia selamat ulang tahun ya” ucap Rasya
Aku pun terkejut entah dari mana ia tahu tanggal lahir ku
“apasih aku tidak sedang ulang tahun kok”
“memang agak sedikit terlambat, maaf ya Cia, aku tahu kok kamu ulang tahun tanggal 28 kemarin, hehe telat 3 hari gapapa lah ya”
“terimakasih ya Rasya, aku kaget lo ,kok kamu bisa tahu tanggal lahir ku”
“coba liat kebelakang”
Ternyata di bangku belakang sudah tersedia kue ulang tahun dan buket super besar berwarna pink dan ada juga boneka beruang.
“loh ini semua apa?” jawab ku dengan muka kebingungan
“ini dari ku untuk mu, sudah hampir 1 tahun aku suka sama kamu Ci, aku harap kamu mau nerima aku, aku siap kok jadi teman cerita kamu, dan aku janji ga akan buat kamu kesepian”
“Rasya, maaf ya kalo selama ini aku tidak peka akan perasaan mu”
Aku pun tersenyum dan mengangguk untuk pertanyaan yang telah Rasya tanyakan
Hari itu aku sangat bahagia, ternyata masih ada yang sayang dan perhatian sama aku selama ini.
Hari terus berlalu dan meskipun ayah dan ibu Cia sibuk dengan perkerjaan mereka tetapi Cia selalu ada Rasya yang selalu menjadi tempat cerita Cia.
Di suatu hari kemudian ada seorang anak perempuan kira-kira umurnya di bawah ku mengetok pintu rumah ku
Aku kira itu rasya yang ingin mengajak ku untuk keluar, ternyata di hadapan ku berdiri gadis cantik berambut panjang dan membawa boneka berwarna merah, ia datang dengan sendirian, lalu ia bertanya
“mana papa ku”
“maaf dik, sepertinya kamu salah alamat”
Lalu ia menunjukkan foto yang ada di hp nya, foto itu foto papa ku bersama gadis itu dan perempuan yang terlihat seperti ibu dari gadis itu
Aku hanya bisa terbengong bingung, dan aku tak tahu apa apa
Akhirnya aku ajak ia masuk dan aku berbincang-bincang dengan dia
Ternyata ia adalah adik tiri ku
Umur ia 10 tahun ternyata pas aku berusia 7 tahun ayah menikah lagi dengan ibu dari anak tersebut.
Pantas saja setelah umur ku 7 tahun ayah makin sering keluar kota, ternyata ia sudah memiliki keluarga baru, bahkan ayah dan ibu telah bercerai tanpa sepengetahuan ku, rumah itu terasa sepi karena memang ibu yang jarang pulang karena perkerjaan nya dan ayah yang sudah memiliki keluarga baru.
Disitu aku menangis sampai tak bersuara, hancur hati ku, aku merasa di bohongi.
Ibu tidak pernah sedikit pun menceritakan tentang ini, apalagi ayah…
2 hari setelah kedatangan gadis itu aku tak masuk sekolah karena merasa sedih dan aku jatuh sakit
Rasya dan teman-teman ku membesuk ku bahkan Rasya pun sampai memberi suapan agar aku makan, karena memang sudah 2 hari aku tidak makan.
Aku tetap tidak mau makan, Rasya berusaha membujuk ku.
Ia bilang
“Ci kamu harus sehat, kamu masih punya aku, aku sedih tahu kalo kamu kaya gini terus, kata kamu kita mau jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita kunjungi bersama”
Akhirnya aku mau makan setelah ia berkata seperti itu, aku tak tega menatap nya, dan aku sadar setidaknya aku masih punya ia yang selalu mau jadi tempat aku pulang
Setelah mendengar kabar ku sakit ibu ambil cuti dari pekerjaan nya, ibu menceritakan semuanya kepada ku, cerita nya sama seperti gadis kecil itu menceritakan nya kedap aku
Hari demi hari terus berlalu, aku hanya punya ibu dan rasya saja saat itu
Sedangkan ayah ku tidak pernah menjenguk dan bahkan pulang kerumah kami lagi.
Beberapa tahun kemudian mereka lulus dari sekolah dan mereka menjenjang pendidikan di kuliah impian mereka masing-masing setelah mereka lulus mereka janji akan ke jenjang yang lebih serius,
Aku tak percaya akan hal yang di katakan oleh Rasya, karena aku sudah trauma dengan laki-laki, ayah ku saja bisa begitu, apalagi rasya yang aku pun belum lama mengenal nya.
Kuliah ku pun berjalan dengan lancar sampai aku mendapatkan gelar sarjana
Dan beberapa bulan kemudian Rasya datang kerumah bersama kedua orang tua nya, ia ternyata datang untuk melamar ku dan merencanakan tanggal pernikahan aku dan dia
Aku dan ibu ku pun menerima lamaran nya
Beberapa bulan kemudian aku membangun keluarga yang bahagia bersama nya, dan sampai selamanya.
Dari kehidupan ku ini aku belajar dari cerita hidup ku, jika hidup ku tidak bahagia di saat aku bersama keluarga ku, aku harap aku bisa menjadi orang tua yang bahagia untuk anak-anak ku nantinya.
Terimakasih Rasya alfahri telah hadir di kehidupan ku dan membuat ku bahagia sampai saat ini❤️


