Seni mencintai diri sendiri

 

Dulu, jika ada yang bertanya siapa aku, lidahku mungkin akan kelu. Aku hanyalah seorang gadis SMA yang terbiasa mendekap malu seorang introvert yang temannya bisa dihitung jari. Aku merasa nyaman di balik bayangan—tak terlihat, tak terdengar, seolah eksistensiku hanyalah bisikan lirih di tengah keramaian.

Namun, entah percik apa yang memicunya, sesuatu dalam diriku mendadak bergeser. Aku menemukan versi baru dari diriku yang mulai gemar memeluk interaksi. Awalnya, transisi ini terasa seperti mimpi indah yang menjelma nyata. Aku merasa lebih hidup, merasa memiliki suara yang bergaung.

Lucunya, seiring langkahku berubah dari introvert menjadi ekstrovert, dunia seolah membukakan pintu keajaiban. Aku menjadi lebih mahir dalam public speaking, prestasiku meroket baik di bidang akademik maupun non-akademik. Aku merasa sedang berdiri di puncak dunia. Namun, di balik kemilau itu, badai baru mulai menyapa.

Di tengah lingkaran pertemanan yang meluas, aku justru menemui jiwa-jiwa yang bermuka dua. Mereka yang membicarakan burukku di belakang, menghina keberhasilanku, padahal saat di depanku, mereka memasang topeng pendukung yang paling manis. Dunia yang tadinya penuh warna mendadak kembali abu-abu. Aku sempat terpuruk dan meratap, “Aku sudah berusaha sekeren ini, tapi mengapa mereka tidak bangga? Mengapa mereka justru ingin menjatuhkanku?”

Sakit rasanya melihat senyum palsu yang ternyata menyembunyikan belati. Dalam renungan malam yang sepi, aku sempat bertanya pada diri sendiri apa kurangnya aku? Jika hidupku yang sudah tertata begini saja masih menuai kebencian, lantas hidup seperti apa yang harus kujalani? Logikaku sempat lumpuh oleh duka. Aku merasa tidak cukup, meski seorang teman sejati terus membisikkan bahwa aku sudah sempurna apa adanya. Namun, bisikan jahat dari mereka yang membenci tetap saja menyusup, membuat hatiku goyah.

Bagian paling melelahkan adalah kenyataan bahwa setiap kali aku mengunggah prestasi di media sosial, mereka langsung menjadikannya bahan ejekan. Seolah-olah kesuksesanku adalah polusi bagi telinga mereka.

Namun, setelah merenung dengan pikiran yang jernih dan logika yang tenang, aku menyadari satu hal,Aku tidak kurang. Merekalah yang tidak mampu menerima kelebihanku. Mengapa aku harus meredupkan cahayaku hanya karena mereka merasa silau?

Kini, aku memilih untuk lebih mencintai diriku sendiri. Aku menjauhkan diri dari mereka yang beracun dan menutup pintu hati bagi mereka yang bermuka dua. Aku tidak lagi haus akan validasi dari orang-orang yang hanya ingin melihatku jatuh.

Aku tidak akan lagi bersembunyi. Kini, aku memilih untuk terus membagikan setiap jengkal pertumbuhan hidupku di media sosial—bukan untuk pamer, melainkan untuk merayakan keberanianku untuk tumbuh. Biarlah mereka merasa semakin kecil dalam kebenciannya, sementara aku tak akan lagi membiarkan rasa insecure bertahta.

Untuk kamu yang mungkin sedang merasakan hal yang sama, satu pesan dariku, untuk menjadi sempurna, kamu tidak perlu menjadi seperti yang mereka katakan. Cukuplah menjadi dirimu sendiri dan lakukanlah apa pun yang kamu mau.