Dari Awal yang Sederhana hingga Menjadi Inspirasi: Kisah Perjalanan IPM Lampung Utara

Beberapa waktu pekan lalu, saya sempat berkomunikasi dengan Jalil Anwar Amanulloh di Whatsapp, selaku Ketua Umum PD IPM Lampung Utara saat ini. Ia menanyakan perihal buku panduan pelatihan da’i. Hari ini, ketika saya melihat perkembangan IPM Lampung Utara, menurut saya kemajuannya cukup signifikan.

Tiba-tiba saya ingin menulis perihal cerita ini, barangkali ini menjadi semacam pengingat dan refleksi untuk kita semua, dan mohon dikoreksi jika nanti ada alur cerita yang kurang tepat.

Saya teringat sebuah peristiwa pada akhir 2020 atau awal 2021. Saat itu, saya bersama Mas Salman Rifqi Saputra (Sekretaris Bidang Kader), Mas M. Fariz Hamdan (Sekretaris Umum), Mas Abdul Azis Al Faruq (Sekretaris Bidang KDI), serta Mas Muhammad Rofiqul Anam (kini Ketua Bidang Kader PW IPM Lampung) melakukan perjalanan ke Lampung Utara. Itu adalah pengalaman pertama saya naik kereta api, dan sempat ditakut-takuti oleh Mas Azis karena saya benar-benar tidak paham cara naik kereta.

Sesampainya di Stasiun Kotabumi, kami sudah ditunggu oleh teman-teman PD IPM Lampung Utara. Saya tidak ingat persis siapa yang menjemput. Saat tiba di SMK Muhammadiyah Kotabumi, saya cukup kaget melihat kondisinya, sampai bergumam dalam hati, “Ini beneran sekolah?”

Kami bertemu dengan Ketua Umum PD IPM Lampung Utara saat itu, Mas Rendi, dan Kepala SMK Muhammadiyah Kotabumi. Setelah diskusi singkat, acara dilanjutkan dengan pembukaan PKTM 1. Pesertanya tidak sampai 15 orang, dilaksanakan selama dua hari tanpa menginap. Hanya kami yang menginap bersama beberapa pengurus PD IPM Lampung Utara.

Saya masih ingat, Sulis dan Herman sebagai peserta. Yang menarik, semangat terbesar justru datang dari Sulistiyawaty, yang akhirnya menjadi Ketua Umum PD IPM Lampung Utara, didampingi Jalil sebagai Sekretaris Umum. Rofiq pernah bercerita bahwa malam itu tempat kami menginap sempat dilempari batu, saya tidak tahu karena pada saat itu sudah tertidur, hehehe.

Ada satu kenangan yang tak terlupakan: ketika hendak pulang ke PWM, sesampainya di Stasiun Tanjung Karang, kami justru berjalan kaki dari stasiun hingga ke Gedung PWM Lampung. Saya tidak tahu persis alasan memilih berjalan kaki, tapi momen itu terasa begitu lekat di ingatan.

Kini, saya sangat bangga melihat IPM Lampung Utara berkembang pesat.

Pelajaran pentingnya menurut saya adalah organisasi yang tampak kecil dan terbatas bukan berarti tidak bisa bergerak. IPM Lampung Utara mampu membuktikan, dengan kegigihan, mereka mampu bersaing dengan PD IPM lainnya, bahkan mengungguli beberapa di antaranya.

Pesan saya, kepada PD IPM lainnya khususnya di Lampung harus belajar banyak dari mereka. Jangan sampai kalah semangat. Bergeraklah terus, evaluasi, dan kembangkan diri. Selama kita masih punya nafas, kita punya kesempatan untuk berkarya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Salman, Mas Azis,  Mas Hamdan, dan Rofiq yang telah memberi kesempatan menyaksikan awal perjalanan IPM Lampung Utara. Semoga rekan – rekan di sana terus merawat ikatan tercinta ini, menumbuhkan semangat juang, dan menginspirasi pelajar Muhammadiyah. Mari kita semua berjuang, di mana pun berada, untuk menghidupkan IPM meski dengan segala keterbatasan.