Dulu, aku sering berdiri di depan pagar rumah, menatap kakak-kakak SMA yang lewat dengan rasa iri yang meluap. Di mataku, mereka adalah simbol kemerdekaan. Mereka bisa tertawa lepas di pinggir jalan, mengeksplorasi dunia dengan bebas, dan yang paling membuatku cemburu, mereka tidak lagi diatur dengan jadwal ketat atau instruksi orang tua yang membosankan.
“Kalau aku sudah SMA nanti, aku akan melakukan semuanya sendirian,” janjiku pada diriku yang masih kecil. Saat itu, aku yakin seragam abu-abu adalah tiket emas menuju kedewasaan yang sempurna.
Namun sekarang, ketika kain abu-abu itu benar-benar melekat di bahuku, kenyataan menghantam dengan cara yang berbeda. Cermin di kamarku memantulkan sosok yang sama, tapi jiwaku merasa asing. Ternyata, anggapanku dulu salah besar. Kebebasan yang kulihat dari kejauhan itu hanyalah kulitnya saja. Begitu aku masuk ke dalamnya, aku menyadari bahwa pikiranku belum sekuat yang kubayangkan.
Ketika dunia mulai menyodorkan masalah-masalah yang lebih besar tentang tanggung jawab organisasi yang menumpuk, ekspektasi orang-orang di sekitar, hingga tuntutan masa depan yang tinggal selangkah lagi aku merasa ciut. Pikiranku seolah menolak untuk terbuka pada hal-hal berat itu. Di balik seragam ini, aku masih merasa seperti anak kecil yang ingin berlindung di balik punggung orang tua. Aku yang SMA sekarang menyadari, bahwa menjadi dewasa tidak datang otomatis bersama seragam baru.
Di tengah sunyinya malam, saat jarum jam melewati angka dua belas, kegaduhan di kepalaku baru dimulai. Aku sering merenung sendirian, Apa aku bisa melewati semua ini? Apa aku bisa menanggung beban di punggungku? Apa aku bisa menjalankan semua amanah ini dengan benar?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa dingin dan menyesakkan. Aku merasa seperti amatir yang dipaksa memainkan peran utama dalam drama besar yang belum kupahami naskahnya. Aku takut mengecewakan mereka yang percaya padaku, tapi aku lebih takut mengecewakan diriku yang dulu begitu berharap pada sosok “anak SMA” ini.
Kini aku mengerti satu hal penting. Melihat orang lain tampak bahagia dari luar bukan berarti mereka benar-benar tanpa beban. Di balik tawa lepas yang dulu kusaksikan, mungkin ada perenungan yang sama dalamnya dengan yang kulakukan saat ini.
Melalui tulisan ini, aku ingin berbisik kepada siapa pun yang membaca,Jangan pernah menilai sesuatu hanya dari kulitnya. Jangan menghakimi hidup seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Don’t judge a book by its cover. Kita tidak pernah tahu konflik apa yang sedang mereka lawan di dalam hati, atau seberapa berat beban yang sedang mereka tahan agar tidak jatuh.
Sebab ternyata, menjadi dewasa bukan tentang terbang bebas tanpa arah, tapi tentang belajar memikul beban yang dulu tidak pernah terlihat oleh mata kecil kita.


