31 Desember

Mata itu datang kembali

ke rumah yang tak lagi sama.

 

Jiwaku termenung,

dinding-dinding hening ikut menyaksikan.

Ada maksud yang tak terucap,

mengendap di udara. 

 

Ia mendekat,

memaki diri, berkata semua membencinya.

 

Tidak.

Tak ada yang membenci.

 

Namun amarah telah meluap.

“Kan kubunuh ibumu,” katanya.

 

Tangisku pecah

sendiri di rumah itu.

Perseteruan menjelma perang

seperti masa penjajahan yang tak pernah usai.

 

Tak ada yang mampu mengendalikan

amarah yang meluap seperti badai.

Rumah itu menjadi saksi

retaknya suara dan hati.

 

Aku berdiri di sudut ketakutan,

menggenggam doa yang gemetar.

Hanya aku dan Tuhan

yang tahu betapa rapuhnya malam itu.

 

Langit seakan menahan napas,

sementara air mataku jatuh

tanpa suara.

 

Di antara ancaman dan sunyi,

aku belajar, 

bahwa bertahan

kadang lebih berat

daripada berperang.

 

Karya: Nabila Rachmayanti

Kotabumi, 20 Februari 2026.