Pendidikan sering kali digambarkan sebagai tangga yang harus didaki selangkah demi selangkah. Namun, belakangan ini saya melihat fenomena yang ganjil di lingkungan sekitar, terutama melalui pengamatan di media sosial dan realitas di sekolah. Banyak siswa jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tampak kehilangan fondasi paling dasar dalam pendidikan mereka: literasi numerasi.
Jujur saja, hati saya sering bertanya-tanya setiap kali melihat kawan sebaya di tingkat SMA yang masih gagap menghadapi operasi hitung sederhana. Tambah-tambahan atau pembagian dasar—yang seharusnya sudah tuntas di bangku sekolah dasar—ternyata masih menjadi momok yang membingungkan. Muncul sebuah pertanyaan besar dalam benak saya: bagaimana mungkin mereka bisa sampai di titik ini? Bagaimana sistem kita membiarkan siswa melenggang ke jenjang yang lebih tinggi tanpa bekal “alat tempur” yang paling mendasar?
Kenyataan ini menjadi sebuah ironi yang tajam bagi saya pribadi. Sebagai pelajar yang oleh teman-teman sering dianggap “lumayan pintar”, saya justru sering merasa masih sangat jauh dari kata cukup. Saya tetap merasa kurang dan menyadari bahwa masih banyak hal yang belum saya kuasai. Namun, di saat saya terus merasa perlu mengejar ketertinggalan, saya justru dihadapkan pada realitas di mana standar minimal pendidikan seolah perlahan luntur demi mengejar angka kelulusan administratif semata.
Fenomena ini bukan sekadar masalah malas belajar, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Literasi numerasi bukan hanya soal angka, tapi soal kemampuan otak untuk bernalar secara logis. Jika kemampuan dasar ini tidak dikuasai, maka duduk di bangku SMA hanya akan menjadi formalitas belaka. Mereka hadir secara fisik, namun tidak benar-benar mampu menyerap materi yang lebih kompleks karena fondasinya rapuh.
Kita tidak boleh terus-menerus memaklumi ketertinggalan ini. Memberikan kelulusan kepada siswa yang belum paham dasar-dasar ilmu bukanlah sebuah bantuan, melainkan sebuah bentuk pembiaran yang menghambat masa depan mereka. Pendidikan seharusnya tentang kejujuran kualitas, bukan sekadar memenuhi kuota agar terlihat sukses di atas kertas. Saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, karena pendidikan yang berkualitas dimulai dari keberanian untuk mengakui kekurangan yang ada.
Bagaimana menurut teman-teman? Apakah kalian juga menemukan fenomena serupa di lingkungan sekolah atau media sosial kalian? Menurutmu, apa yang salah dari sistem kenaikan kelas kita saat ini? Yuk, sampaikan pendapat kalian melalui Instagram ku @meyyyyyyyyyyyyyys


