Mata itu datang kembali
ke rumah yang tak lagi sama.
Jiwaku termenung,
dinding-dinding hening ikut menyaksikan.
Ada maksud yang tak terucap,
mengendap di udara.
Ia mendekat,
memaki diri, berkata semua membencinya.
Tidak.
Tak ada yang membenci.
Namun amarah telah meluap.
“Kan kubunuh ibumu,” katanya.
Tangisku pecah
sendiri di rumah itu.
Perseteruan menjelma perang
seperti masa penjajahan yang tak pernah usai.
Tak ada yang mampu mengendalikan
amarah yang meluap seperti badai.
Rumah itu menjadi saksi
retaknya suara dan hati.
Aku berdiri di sudut ketakutan,
menggenggam doa yang gemetar.
Hanya aku dan Tuhan
yang tahu betapa rapuhnya malam itu.
Langit seakan menahan napas,
sementara air mataku jatuh
tanpa suara.
Di antara ancaman dan sunyi,
aku belajar,
bahwa bertahan
kadang lebih berat
daripada berperang.
Karya: Nabila Rachmayanti
Kotabumi, 20 Februari 2026.


